Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ambigu adalah sesuatu bermakna lebih dari satu sehingga menimbulkan keraguan dan ketidakjelasan. Dari sisi bahasa, ambigu merujuk pada kalimat-kalimat tertentu yang kita temukan saat berbincang dengan seseorang atau saat membaca sebuah tulisan, baik dalam bentuk buku, jurnal atau media daring lainnya. 

Ambigu sendiri tidak selalu diasosiasikan sebagai hal negatif. Beberapa sastrawan bahkan sengaja menggunakannya dalam karya mereka untuk berbagai tujuan. Lebih jelasnya, Sedulur bisa mencari tahu lewat bahasan di bawah ini. 

BACA JUGA: 10 Deretan Universitas Terbaik di Dunia 2022 Versi QS World

Makna ambigu secara umum 

ambigu adalah
unsplash.com

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ambigu adalah sesuatu yang merujuk pada multitafsir, ketidakpastian, dan makna yang lebih dari satu. Secara umum, ambigu bisa merujuk pada apa saja. Kebijakan politik yang ambigu, jenis kelamin yang ambigu dalam biologi, dan lain sebagainya. Dari sisi literatur atau bahasa, Stanford Encyclopedia of Phylosophy mennggarisbawahi bawahi perbedaan kata yang bersifat ambigu dengan kata yang tidak spesifik.

Contoh kalimat atau frasa yang tidak spesifik sebagai berikut, “Aku punya dua kakak. Satu tinggal di Jakarta dan satunya lagi tinggal di Palu. Aku akan mengunjungi salah satu kakakku.” 

Kalimat di atas tidak bisa dikategorikan kalimat ambigu, sebab sang narator sudah mengungkapkan maksudnya dengan jelas. Hanya saja, ia belum atau tidak memberikan informasi spesifik tentang kakak yang mana yang akan ia kunjungi. Dengan begitu bisa disimpulkan bahwa kalimat ambigu punya penjelasan yang lebih dalam dari ketidakjelasan semata. 

BACA JUGA: 250 Kata-Kata Bijak Inspiratif Tentang Kehidupan, Penuh Makna

Jenis-jenis kalimat ambigu 

ambigu adalah
unsplash.com

Agar lebih paham, mari mengenal kalimat ambigu lewat beberapa tipe berikut.

1. Ambiguitas fonetik 

Kalimat ambigu jenis ini muncul karena kesamaan bunyi yang dilafalkan atas sebuah kata. Contoh paling mudah adalah kata “beruang” yang bisa diartikan “memiliki uang” atau “jenis binatang mamalia”. Kata tersebut ambigu jika hanya sendiri, tetapi saat dimasukan dalam kalimat, konteksnya akan jelas terlihat dan pembaca akan langsung tahu maksudnya. Kadang ambiguitas ini datang karena pelafalan yang terlalu cepat. Sama dengan kata “tahu” yang bisa berarti “memahami” atau justru diartikan sebagai “makanan olahan kedelai”. Jika dilafalkan berbeda dan pelan akan lebih jelas maksudnya.

2. Ambiguitas leksikal 

Tipe ini terjadi ketika kalimat mengandung kata yang memiliki lebih dari satu arti. Sebab dari kemunculan kata yang berarti ganda itu ada dua, yaitu homonim dan polisemi. 

Homonim adalah kata yang ejaan dan cara bacanya sama persis, tetapi memiliki arti yang berbeda dan tidak berkaitan. Contohnya “bisa”, ia dapat diartikan sebagai mampu atau racun dari ular. Atau “bulan” yang bisa berarti hitungan dalam kalender atau benda langit. Semua artinya tidak berkaitan satu sama lain, tetapi dibaca dan ditulis sama persis. Untuk membedakannya, perlu tambahan konteks sebagai penjelas. 

Polisemi merupakan kata dengan ejaan dan cara baca yang sama, dan berbeda arti, tetapi masih berkaitan. Misalnya “padat” yang artinya adalah wujud benda yang solid alias tidak berongga. Namun, di konteks lain ia bisa juga diartikan sebagai kata sifat untuk sesuatu yang tidak konkret misalnya “jadwal yang padat” karena tidak ada jeda sama sekali. Atau padat juga bisa dipakai untuk konteks lain seperti “populasi yang padat” artinya sesak, tidak banyak ruang tersisa. Di sini, padat punya definisi yang berbeda-beda tergantung pada konteks, tetapi jika diperhatikan punya makna yang mirip, yaitu tidak banyak ruang. 

Penggunaan ambiguitas leksikal banyak ditemukan pada puisi atau naskah komedi. Ia banyak dipakai untuk membuat pun atau permainan kata-kata. Contoh kalimat ambigu leksikal adalah sebagai berikut. 

“Aku ingin memberikan hatiku padanya.”  Hati dalam hal ini bisa berarti organ tubuh penghasil empedu atau berarti lainnya yaitu hati yang menyimpan perasaan. 

“Ia sendiri yang memercikan api dalam rumahnya.” Api bisa berarti benar-benar api yang dihasilkan dari korek atau bisa berati perumpamaan masalah atau isu yang memancing emosi atau pertengkaran.

3. Ambiguitas sintaksis 

Ambiguitas ini disebabkan struktur kalimat yang digunakan. Langsung saja pada contoh berikut. 

“Pengusaha kecil itu mulai naik daun”

Kalimat ini menjadi ambigu karena orang bisa menafsirkannya dalam beberapa makna, yaitu. 

“Pengusaha (berbadan) kecil itu mulai naik daun” atau “pengusaha (yang bisnisnya masih berskala) kecil itu mulai naik daun.”

Contoh lainnya “Mereka setuju mengakuisisi produk kopi mahasiswa yang baru.”

Di sini tidak jelas manakah yang bersifat baru, bisa produk kopinya atau mahasiswanya. 

Kata ambigu seperti ini sering kita temukan dalam poster dan iklan. Di bawah ini merupakan ciri kalimat iklan yang ambigu. 

“Orang pintar, minum…..” , merupakan slogan yang ambigu, sebab orang pintar bisa bermakna lebih dari satu, yaitu pintar secara akademis dan bisa dilihat dari level intelijensinya atau pintar dalam arti konsumen yang cerdas dan tahu mana produk yang berkualitas dan tidak. Namun, bisa saja ini memang dilakukan sebagai kesengajaan untuk menarik perhatian. Audiens sengaja dibolehkan mengartikan “orang pintar” tersebut dalam persepsi mereka sendiri. 

BACA JUGA: Arti Kata Ilfeel: Pengertian, Contoh Sikap dan Cara Mengatasinya

4. Ambiguitas gramatikal 

Arti ambigu gramatikal  adalah ambiguitas yang disebabkan oleh peristiwa pembentuk kata atau bisa juga perubahan morfologi yang mengakibatkan perubahan makna. Contohnya sebagai berikut. 

“Kucing itu beranak”. Di sini “beranak” bisa menjadi keterangan kepemilikan atau kata kerja sekaligus sehingga kalimat pendek tersebut bisa diartikan: “Kucing itu sedang melahirkan anak” atau “kucing itu sudah memiliki anak.” 

Itu tadi beberapa tipe kalimat ambigu beserta contohnya. Cukup rumit, tetapi sebenarnya sudah sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga ulasan di atas bisa jadi wawasan baru untuk Sedulur semua.