Hukum Mendel, Hukum Pewarisan Sifat Pada Makhluk Hidup

Pada dasarnya, secara sederhana Hukum Mendel adalah hukum pewarisan sifat pada mahluk hidup. Hukum pewarisan sifat berkaitangan dengan menurunkan genetika dari induk (orangtua) kepada anak (keturunannya).

Nama Hukum Mendel diambil dari nama pencetusnya, yaitu Gregor Johann Mendel. Untuk mengetahui lebih lengkap terkait hukum ini. Yuk, mari kita pelajari lebih lanjut dalam penjelasan di bawah ini.

BACA JUGA: Hukum Coulomb adalah: Pengertian, Rumus & Contoh Soalnya

Bunyi Hukum Mendel

hukum mendel
Kompas

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa Hukum Mendel merupakan hukum yang membahas pewarisan sifat induk kepada keturunannya. Gregor Johann Mendel, yang lahir pada 22 Juli 1840, merupakan tokoh yang pertama kali mengemukakan hukum ini pada tahun 1865.

Hal tersebut dihasilkan berdasarkan penelitiannya atas persilangan dengan menggunakan varietas kacang kapri. Hasil penelitian tersebut diabadikan dalam sebuah makalah yang ditulisnya dengan judul Expriment in Plant Hybridization.

Dalam penelitian terrsebut, persilangan antara nduk jantan dan induk betina diberi nama parental (tertua) dan disimbolkan dengan huruf P. Hasil dari persilangan parental tersebut diberi nama sebagai filius (anak) dan disimbolkan dengan huruf F. Sementara persilangan induk jantan dengan induk betina disebut dengan P1 dan filialnya disebut dengan F1.

Lalu, persilangan antara jantan F1 dengan betina F1 yang dilakukan secara acak akan disebut dengan P2, sedangkan filialnya disebut dengan F2, dan seterusnya. Dari Hukum Mendel tersebut, terdapat turunannya yaitu Hukum Mendel I dan Hukum Mendel II. Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Hukum Mendel I

iStock

Hukum ini dikenal juga dengan nama Hukum Segregasi, yang menyatakan bahwa pada pembentukan gamet (sel kelamin) pada kedua gen yang merupakan pasangan, akan dipisahkan dalam dua sel anak. Hukum ini berlaku untuk persilangan monohibrid alias persilangan dengan satu sifat beda.

Hukum ini berkaitan dengan adanya 3 pokok, yaitu:

  1. Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter turunannya. Inilah yang menjadikannya konsep akan dua macam alel, yakni a) alel resesif (tidak selalu nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf kecil, misalnya w dalam gambar); dan b) alel dominan (nampak dari luar, dinyatakan dengan huruf besar, misalnya R)
  2. Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari tetua jantan (misal ww) dan satu dari tetua betina (misalnya RR)
  3. Jika sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda, alel dominan akan selalu terekspresikan (tampak secara visual dari luar). Alel resesif yang tidak selalu terekspresikan, tetap akan diwariskan pada gamet (sel kelamin) yang dibentuk pada turunannya.

Dalam hukum ini, menyatakan bahwa dua alel (varian gen) yang mengatur sifat tertentu akan terpisah pada dua gamet yang berbeda. Maka dari itu, hukum I ini mencakup beberapa hal, yaitu:

  • Alel (variasi gen) terhadap variasi sifat yang diwariskan. Contoh: warna dua bunga bervariasi yang dinamakan dengan alel, akan menempati lokus yang sesuai dengan pasangan homolog.
  • Dua alel terhadap suatu karakter akan terpisah ketika gamet (sel kelamin) dihasilkan. Contoh: hasil persilangan yang mengandung satu alel warna bunga induknya (ungu atau putih)
  • Setiap karakter pada setiap organisme, akan mewarisi dua alel yang masing-masingnya berasal dari induk. Contoh: hasil persilangan yang kemungkinan akan menghasilkan 1 alel warna putih dan 1 alel warna ungu.
  • Apabila terdapat dua alel berbeda, maka salah satunya dapat bersifat dominan, sementara yang lainnya akan bersifat resesif. Contoh: terdapat perkawinan bunga berwarna ungu dengan bunga warna putih, maka akan menghasilkan keturunan warna ungu.

2. Hukum Mendel II

hukum mendel
iStock

Kedua adalah Hukum Mendel II yang juga dikenal dengan nama Hukum Independent Assortment atau Hukum Pengelompokan Gen Secara Bebas. Hukum ini menyatakan bahwa jika dua individu berbeda satu dengan yang lain dalam dua pasang sifat atau lebih, maka akan diturunkannya sifat yang sepasang itu tidak bergantung pada sifat pasangan lainnya.

Keberadaan Hukum Mendel II ini berlaku untuk persilangan dihibrid (dengan dua sifat yang berbeda). Pada persilangan dihibrid, misalnya terdapat suatu individu dengan genotip AaBb, maka A dan a serta B dan b akan memisah yang kemudian pasangan tersebut akan bergabung secara bebas.

Melalui hal tersebut, maka kemungkinan gamet (sel kelamin) yang terbentuk akan memiliki sifat AB, Ab, aB, dan ab. Sederhananya, hukum kedua ini menyatakan bahwa alel (variasi gen) dengan gen yang sifatnya berbeda itu tidak saling mempengaruhi. Hal ini juga menjelaskan bahwa gen yang menentukan tinggi tanaman, warna tanaman, itu tidak saling berpengaruh.

Perbedaan Hukum Mendel I dan II

iStock

Dari penjelasan di atas, Sedulur dapat melihat perbedaannya. Perbedaan yang paling terlihat yaitu pada sifat yang disilangkan.

Pada Hukum Mendel I menyatakan bahwa pembentukan gamet (sel kelamin) pada kedua gen induk yang berpasangan dengan alel, akan memisah alias segregasi. Hal itu menyebabkan setiap gamet akan menerima satu gen dari induknya.

Sementara pada Hukum Mendel II menyatakan bahwa jika terdapat individu yang berbeda satu sama lain dalam dua pasang sifat atau lebih, maka akan menurunkan sifat yang sepasang dan tidak bergantung pada sifat lainnya.

Kesimpulannya, pada Hukum Mendel I akan mengalami proses segregasi atau pemisahan sel secara bebas. Sementara pada Hukum Mendel II akan mengalami pengelompokan gen secara bebas.

Lantas bagaimana contoh dari hukum ini? Berikut beberapa contohnya:

1. Persilangan monohibrid

hukum mendel
iStock

Percobaan pertama Mendel yaitu dengan membuat percobaan melalui persilangan dua individu dari kacang kapri yang memiliki sifat berbeda. Yaitu antara kacang kapri berbatang tinggi dengan kacang kapri berbatang rendah.

Sifat tinggi dominan terhadap sifat rendah. Hal tersebut menyatakan bahwa dalam pembentukan gamet, pasangan alel akan memisah secara bebas. Peristiwa pemisahan tersebut akan terlihat ketika pembentukan gamet individu yang memiliki genotif heterozigot, sehingga setiap gamet akan mengandung salah satu alel tersebut.

2. Backcross dan Testcross

iStock

Backcross adalah proses menyilangkan atau mengawinkan individu hasil hibrida (F1) dengan salah satu induknya. Tujuannya adalah supaya dapat mengetahui genotip dari induknya (parental). Perhatikan contoh berikut dengan mengandalkan sifat ‘tinggi’ pada kacang kapri.

Sementara testcross adalah proses menyilangkan individu F1 dengan salah satu induknya yang homozigot resesif. Tujuannya adalah supaya dapat mengetahui apakah individu F1 itu memiliki homozigot atau heterozigot.

3. Persilangan dihibrid

hukum mendel
iStock

Ini merupakan contoh Hukum Mendel II, ketika Mendel mencoba melibatkan dua sifat sekaligus dan menyimpulkan bahwa dalam proses pembentukan gamet, setiap pasang alel dalam satu lokus akan bersegregasi secara bebas dengan pasangan alel lokus lainnya, dan akan berpadu secara bebas dengan alel dari lokus lainnya.

Singkatnya, monohibrid adalah hibrid dengan 1 sifat berbeda, sementara dihibrid adalah hibrid dengan 2 sifat berbeda. Saat itu, Mendel menggunakan tanaman ercis sebagai objek pengamatannya, dengan alasan:

  • Memiliki pasangan sifat beda yang mencolok atau kontras.
  • Melakukan penyerbukan sendiri (autogami), sehingga sifat turun-menurunnya cenderung tetap.
  • Mudah dilakukan penyerbukan silang.
  • Cepat untuk menghasilkan keturunan.
  • Dapat memiliki keturunan dalam jumlah banyak.

Dari penelitian tersebut, proses persilangan dihibrid memiliki ciri khas yaitu:

  • Persilangan dilakukan dengan memperhatikan dua sifat yang berbeda.
  • Jumlah gamet (sel kelamin) yang terbentuk pada setiap individu adalah 4 (2n)
  • Fenotip individu akan ditentukan oleh 2 macam sifat genetik.
  • Akan ditemui sekitar maksimal 16 variasi genotif pada F2.

BACA JUGA: Hukum Kekekalan Energi: Definisi, Jenis, Rumus & Contohnya

Teori pewarisan sifat

iStock

Dalam Hukum Mendel terdapat juga beberapa teori terkait pewarisan sifat. Pewarisan sifat sendiri dikenal dengan istilah Hereditas yang mengacu pada suatu pewarisan sifat dari induk kepada keturunannya. Hereditas ini juga berkaitan dengan genetika, ilmu terkait pewarisan sifat itu sendiri.

Terdapat beberapa teori-teori terkait pewarisan sifat. Teori-teori tersebut adalah:

  • Teori embryo yang dikemukakan oleh William Harvey yang berpendapat bahwa semua hewan berasal dari telur.
  • Teori preformasi yang dikemukakan oleh Jan Swammerdam yang menyatakan bahwa telur mengandung semua generasi yang akan datang.
  • Teori epigenesis embriologi yang dikemukakan oleh C.F. Wolf, yang menyatakan bahwa kekuatan vital terdapat dalam benih organisme.
  • Teori plasma nutfah yang dikemukakan oleh J.B Lamarck, yang menyatakan bahwa sifat yang terjadi dikarenakan adanyan rangsangan dari luar (lingkungan) terhadap struktur fungsi organ yang diturunkan pada generasi berikutnya.

Nah itulah tadi penjelasan lengkap terkait hukum Mendel, hukum yang membicarakan terkait pewarisan sifat pada makhluk hidup. Semoga dengan penjelasan di atas, kini Sedulur jadi mengerti kenapa Sedulur memiliki banyak kemiripan dengan orangtua atau saudara-saudara lainnya.

Mau belanja bulanan nggak pakai ribet? Aplikasi Super solusinya! Mulai dari sembako hingga kebutuhan rumah tangga tersedia lengkap. Selain harganya murah, Sedulur juga bisa merasakan kemudahan belanja lewat handphone. Nggak perlu keluar rumah, belanjaan pun langsung diantar.

Bagi Sedulur yang punya toko kelontong atau warung, bisa juga lho belanja grosir atau kulakan lewat Aplikasi Super. Harga dijamin lebih murah dan bikin untung makin melimpah.