{"id":64602,"date":"2022-07-18T19:00:35","date_gmt":"2022-07-18T12:00:35","guid":{"rendered":"https:\/\/superapp.id\/blog\/?p=64602"},"modified":"2022-07-18T15:10:27","modified_gmt":"2022-07-18T08:10:27","slug":"pengendalian-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/pengendalian-sosial\/","title":{"rendered":"Pengertian Pengendalian Sosial Beserta Jenis dan Fungsinya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pernahkah Sedulur mendengar tentang istilah pengendalian sosial atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">? Ya, istilah tersebut memang acap kali muncul pada diskusi yang berkaitan dengan dunia keilmuan sosial. Secara singkat, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> merupakan sebuah konsep dalam keilmuan sosial dimana ia merujuk pada seperangkat aturan atau standar tertentu yang mengikat masyarakat pada kehidupan sehari-hari mereka.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Pada artikel ini, Sedulur akan diajak untuk mengulas lebih dalam mengenai seluk beluk pengertian pengendalian beserta jenis dan fungsinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><b>BACA JUGA: <\/b><a style=\"color: #000000;\" href=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/pertanyaan-untuk-pasangan\/\"><b>20 Pertanyaan untuk Pasangan Agar Tidak Membosankan<\/b><\/a><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>Pengertian pengendalian sosial<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_64637\" aria-describedby=\"caption-attachment-64637\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-64637\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Media-Indonesia-1-570x468.webp\" alt=\"pengendalian sosial\" width=\"570\" height=\"468\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-64637\" class=\"wp-caption-text\">Media Indonesia<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Manusia termasuk ke dalam golongan makhluk sosial, dimana ia sejatinya tidak bisa hidup sendiri. Fakta tersebut pada akhirnya menyebabkan kita hidup berkelompok dalam suatu tatanan masyarakat. Salah satu unsur yang menjaga kestabilan dalam kehidupan bermasyarakat adalah pengendalian sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pengendalian sosial, atau yang dalam bahasa Inggris biasa disebut dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, merupakan sebuah mekanisme yang digunakan untuk mengarahkan anggota masyarakat yang ada di dalam sebuah lingkungan untuk melaksanakan nilai serta norma sosial yang berlaku di dalamnya.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Adanya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> akan secara tidak langsung mengendalikan dan mengatur berbagai perilaku masyarakat. Penyimpangan nilai dan norma sosial yang dapat berisiko untuk merugikan berbagai pihak pun dapat diminimalisir, contohnya adalah perampokan, tawuran, dan lain sebagainya.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> merupakan salah satu konsep yang sering didiskusikan dalam dunia keilmuan sosial, terlebih lagi dalam bidang sosiologi. Secara garis besar, para sosiolog sepakat bahwa yang dimaksud dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah cara bagaimana norma, aturan, hukum, dan struktur masyarakat mengatur perilaku manusia, baik itu secara individu maupun kelompok.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sendiri merupakan salah satu struktur penting yang membangun tatanan sosial. Hal itu disebabkan oleh tidak dapat bertahannya sebuah kelompok masyarakat apabila mereka tidak dapat diatur dan dikendalikan.<\/span><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>Pengendalian sosial menurut para ahli<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah sebuah mekanisme yang digunakan untuk mengarahkan anggota masyarakat yang ada di dalam sebuah lingkungan untuk melaksanakan nilai serta norma sosial yang berlaku di dalamnya.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang telah disinggung sebelumnya, diskusi tentang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> menjadi lazim dalam ranah keilmuan sosiologi. Beberapa tokoh dan akademisi ilmu sosiologi terkenal pun mengungkapkan beberapa definisi pengendalian sosial menurut sudut pandang mereka masing-masing.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Di bawah ini terdapat lima penjelasan pengertian pengendalian sosial menurut para ahli, mulai dari Karel J. Veeger, Peter L. Berger, Richard T. Schaefer, Joseph S. Roucek, dan Soerjono Soekanto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><b>BACA JUGA: <\/b><a style=\"color: #000000;\" href=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/slow-living\/\"><b>Pengertian Slow Living Beserta Cara Penerapan dan Manfaatnya<\/b><\/a><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>1. Karel J. Veeger<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Karel J. Veeger dalam bukunya yang berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pengantar Sosiologi: Buku Panduan Mahasiswa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, mengungkapkan bahwa pengertian dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> merupakan sebuah mekanisme tertentu yang bersangkutan dengan hubungan atau sosialisasi.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Hubungan dan sosialisasi tersebut dilakukan dengan menggunakan metode atau cara tertentu, dimana tujuan utamanya adalah untuk menyelaraskan kehendak kelompok masyarakat. Apabila masyarakat berperilaku dan bersikap sesuai dengan norma sosial, maka harapan dan taraf hidup akan meningkat.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>2. Peter L. Berger<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Peter L. Berger merupakan pencetus dari Teori Konstruksi Sosial. Dalam tulisannya, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">The Social Construction of Reality<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, Peter L. Berger menerangkan bahwa\u00a0 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah salah satu upaya untuk menertibkan tiap-tiap individu dan kelompok masyarakat, yang tadinya berbuat menyimpang menjadi tidak menyimpang.<\/span><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>3. Richard T. Schaefer<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Richard T. Schaefer adalah penulis dari buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sociology<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Menurutnya, pengertian dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah serangkaian aturan yang bisa mengatur siapa saja tanpa terkecuali. Semua level masyarakat butuh sebuah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Dengan aspek dan cakupan yang luas, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat terjadi dalam lingkungan keluarga dan lingkungan sosial lainnya.<\/span><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>4. Joseph S. Roucek<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu akademisi dalam ilmu sosiologi, Joseph S. Roucek, mengungkapkan dalam bukunya yang berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pengendalian Sosial<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, bahwa istilah tersebut mengacu pada segala proses, pandangan, dan juga ajakan terhadap masyarakat untuk tunduk pada nilai-nilai sosial yang berlaku.<\/span><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>5. Soerjono Soekanto<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Soerjono Soekanto pernah menjelaskan definisi dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam bukunya yang berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Sosiologi: Suatu Pengantar.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Menurutnya, pengendalian sosial adalah terjadinya proses yang bertujuan untuk mengajak, memaksa, sekaligus membimbing individu dan kelompok masyarakat untuk menaati aturan, nilai, serta norma yang berlaku. Mereka dapat menaatinya dengan direncanakan ataupun tidak direncanakan.<\/span><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>Tujuan pengendalian sosial<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_64636\" aria-describedby=\"caption-attachment-64636\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-64636\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Masagipedia-2-570x468.webp\" alt=\"pengendalian sosial\" width=\"570\" height=\"468\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-64636\" class=\"wp-caption-text\">Masagipedia<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai salah satu unsur signifikan dalam pembangunan tatanan sosial di masyarakat, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tentunya memiliki beberapa tujuan utama yang penting. Berikut ini merupakan pembahasan singkat dari enam tujuan pengendalian sosial.<\/span><\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000;\"><b style=\"color: #000000;\">Memupuk kedamaian dan <\/b><span style=\"color: #000000;\"><b>ketenteraman<\/b><\/span><b style=\"color: #000000;\"> masyarakat<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2013 Kedamaian dan ketenteraman di tengah masyarakat merupakan salah satu indikator tidak adanya tindak kejahatan atau penyimpangan nilai dan norma sosial.<\/span><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000;\"><b>Menegakkan hukum<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2013 Hukum-hukum dalam negara kita banyak yang mengambil dari aturan, nilai, serta norma yang berlaku di tengah masyarakat. Maka dari itu, dengan menerapkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, maka individu atau kelompok masyarakat tersebut juga sekaligus menegakkan hukum.<\/span><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000;\"><b>Melahirkan budaya malu<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2013 Budaya malu merupakan salah satu budaya yang membantu dalam menggalakkan pengendalian sosial. Atas dasar rasa malu, seseorang atau suatu kelompok biasanya akan mengurungkan untuk berperilaku dengan cara tertentu.<\/span><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000;\"><b>Mengurangi frekuensi terjadinya pelanggaran nilai dan norma sosial<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2013 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat menjadi salah satu upaya untuk meminimalisir terjadinya berbagai pelanggaran nilai dan norma sosial di tengah masyarakat.<\/span><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000;\"><b>Menciptakan ketertiban<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2013 Salah satu tujuan utama dari sebuah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah untuk menertibkan masyarakat. Dengan begitu, keberlangsungan hidup dan sosial masyarakat dapat terjamin.<\/span><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000;\"><b>Refleksi diri<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2013 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat membuat seseorang untuk menyadari kesalahan yang telah diperbuat, menumbuhkan keinginan untuk memperbaiki diri demi hubungannya terhadap orang lain, dan meningkatkan kepatuhan terhadap aturan, nilai, dan norma yang telah ada.<\/span><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><b>BACA JUGA: <\/b><a style=\"color: #000000;\" href=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/angin-duduk\/\"><b>Angin Duduk: Gejala, Penyebab, Pencegahan &amp; Pengobatan<\/b><\/a><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>Ciri-ciri dan karakteristik pengendalian sosial<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelumnya telah kita bahas bersama-sama tentang tujuan-tujuan utama dari sebuah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Pengendalian sosial bertujuan untuk memupuk kedamaian dan ketentraman masyarakat, menegakkan hukum, melahirkan budaya malu, mengurangi frekuensi terjadinya pelanggaran nilai dan norma sosial, menciptakan ketertiban, dan sebagai refleksi diri.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pada pembahasan ini, kita akan melanjutkan ke ulasan tentang ciri-ciri dan karakteristik dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Kira-kira apa saja ya, ciri-cirinya?<\/span><\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ciri dan karakteristik yang pertama dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah memiliki sebuah metode atau teknik tertentu yang dapat dimanfaatkan dan digunakan untuk mengontrol perilaku masyarakat serta lingkungan sekitar.<\/span><\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ciri dan karakteristik yang kedua dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah memiliki salah satu tujuan utama untuk mencapai keseimbangan antara stabilitas dan perubahan yang secara simultan sedang terjadi di dalam lingkungan tersebut.<\/span><\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ciri dan karakteristik yang ketiga dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah biasanya dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat terhadap individu kelompok masyarakat lain.<\/span><\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Ciri dan karakteristik yang keempat dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah memiliki arah komunikasi dua arah, pun seringnya tidak disadari oleh tiap-tiap pihak yang terlibat dalam proses pengendalian sosial ini..<\/span><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>Jenis-jenis pengendalian sosial<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_64634\" aria-describedby=\"caption-attachment-64634\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-64634\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Bengkulutoday-4-570x445.webp\" alt=\"\" width=\"570\" height=\"445\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-64634\" class=\"wp-caption-text\">Bengkulutoday<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Pengendalian sosial adalah salah satu upaya untuk menertibkan tiap-tiap individu dan kelompok masyarakat, yang tadinya berbuat menyimpang menjadi tidak menyimpang. Tujuan utama dari sebuah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> itu sendiri adalah untuk menertibkan masyarakat. Ketika masyarakat tertib, maka keberlangsungan hidup dan sosial masyarakat dapat terjamin.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai salah satu upaya penertiban, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dapat dibedakan menjadi beberapa jenis. Terdapat enam jenis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang biasanya digunakan di tengah masyarakat, yaitu preventif, represif, kuratif, partisipatif, formal, dan informal.<\/span><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>1. Pengendalian sosial preventif<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang bersifat preventif biasanya terjadi di dalam lingkungan masyarakat sebelum adanya atau terjadinya sebuah perilaku yang menyimpang. Jenis pengendalian ini lazim dilakukan oleh seseorang dengan menggunakan metode sosialisasi norma-norma yang ada, mendidik masyarakat sekitar, serta melakukan penyuluhan dan nasehat agar penyimpangan sosial ini tidak terjadi.<\/span><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>2. Pengendalian sosial represif<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang bersifat represif biasanya terjadi di dalam lingkungan masyarakat setelah adanya atau terjadinya sebuah perilaku yang menyimpang. Pengendalian jenis ini sendiri lazim berwujud dalam sebuah usaha untuk memberikan konsekuensi bagi yang melanggar, hukuman yang sepadan, nasehat, ataupun penyuluhan. Kesemuanya dilakukan agar nantinya tidak ada lagi pelanggaran dan perilaku menyimpang.<\/span><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>3. Pengendalian sosial kuratif<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> kuratif biasanya dilakukan dengan pembinaan dan penyembuhan kepada pelaku penyimpangan sosial. Tujuan utamanya adalah untuk mengubah nilai dan norma yang ada pada dirinya.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Pengendalian sosial contoh ini adalah rehabilitasi yang diberikan kepada para mereka yang menyalahgunakan obat-obatan terlarang dan juga kecanduan minuman beralkohol.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>4. Pengendalian sosial partisipatif<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> partisipatif biasanya dilakukan dengan mengajak atau mengikutsertakan pelaku penyimpangan sosial. Tujuan utamanya adalah untuk merubah dirinya sendiri dan membantu memperbaiki nilai serta norma pelaku penyimpangan sosial lain.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Pengendalian sosial contoh ini adalah pengangkatan mereka yang pernah terjebak dalam penyalahgunaan obat-obatan terlarang menjadi duta anti narkoba.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>5. Pengendalian formal<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Pengendalian formal biasanya dilaksanakan oleh lembaga-lembaga resmi yang ditunjuk untuk menjadi pengawas terhadap peraturan, nilai, dan norma secara resmi di dalam sebuah tatanan masyarakat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Peraturan, nilai, dan norma tersebut lazim dibuat secara tertulis. Contohnya dapat kita lihat bersama pada lingkungan perusahaan, perkumpulan serikat pekerja, maupun lembaga peradilan yang ada.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>6. Pegendalian informal<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Pengendalian formal biasanya dilaksanakan oleh kelompok masyarakat yang tidak bersifat resmi, baik itu secara peraturan ataupun nilai-nilainya. Contoh pengendalian informal lazimnya dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti pada saat sedang berkumpul dengan keluarga ataupun bersama teman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Nasehat, pesan-pesan, serta informasi lain yang disampaikan pada saat sesi berkumpul tersebut adalah salah satu bentuk dari pengendalian sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><b>BACA JUGA: <\/b><a style=\"color: #000000;\" href=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/tebak-tebakan-romantis\/\"><b>100 Tebak Tebakan Romantis untuk Pasangan yang Bikin Baper<\/b><\/a><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>Fungsi pengendalian sosial<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelumnya telah kita bahas mengenai jenis-jenis pengendalian sosial atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sendiri merupakan sebuah proses yang bertujuan untuk mengajak, memaksa, sekaligus membimbing individu dan kelompok masyarakat untuk menaati aturan, nilai, serta norma yang berlaku. Mereka dapat menaatinya dengan direncanakan ataupun tidak direncanakan.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Setidaknya terdapat enam jenis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, meliputi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> preventif, represif, kuratif, partisipatif, formal, dan informal. Kesemuanya dilakukan untuk mencapai satu tujuan utama, yaitu menertibkan kehidupan bermasyarakat.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas, apa sebenarnya fungsi dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tersebut? Berikut merupakan ulasan lengkapnya.<\/span><\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000;\"><b>Menguatkan keyakinan akan nilai dan norma sosial<\/b><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Fungsi yang pertama dari sebuah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah untuk menguatkan keyakinan masyarakat tentang nilai dan norma sosial yang berlaku. Penanaman dan penguatan keyakinan ini diharapkan dapat memberikan pengaruh secara langsung terhadap tatanan masyarakat yang ada.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Penguatan keyakinan akan nilai dan norma sosial dapat dilakukan melalui berbagai lembaga yang memiliki kedekatan dengan masyarakat, seperti sekolah, keluarga, atau melalui sugesti-sugesti dari sekitar lingkungan.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000;\"><b>Memberikan imbalan terhadap mereka yang taat akan nilai dan norma sosial<\/b><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Fungsi yang kedua dari sebuah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah untuk memberikan imbalan terhadap mereka yang taat akan nilai dan norma sosial yang berlaku di lingkungan masyarakat.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Imbalan di sini memiliki maksud memberikan pujian, penghormatan, serta memberikan hadiah penghargaan terhadap anggota masyarakat tersebut. Pemberian imbalan memiliki tujuan tidak lain agar semua elemen masyarakat tetap konsisten menjalankan nilai dan norma yang ada, pun memberikan contoh kepada orang lain untuk menjadi lebih baik lagi.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000;\"><b>Menumbuhkan rasa malu<\/b><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Fungsi yang ketiga dari sebuah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah untuk mengembangkan rasa malu pada masing-masing diri individu. Rasa malu yang dimaksud di sini adalah konsekuensi ketika seseorang melakukan penyimpangan sosial, ia kemudian akan sadar terhadap kesalahannya. Setelah itu dia akan merasa malu untuk mengakui, lalu\u00a0 harga dirinya menjadi turun.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Konsekuensi lain yang kemungkinan didapat oleh seseorang ketika melakukan penyimpangan sosial adalah celaan dan komentar negatif yang datang dari sekitarnya. Konsekuensi-konsekuensi tadi akan membuat orang tersebut merasa malu dan jera. Dengan begitu, ia tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000;\"><b>Menumbuhkan rasa takut<\/b><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Fungsi yang keempat dari sebuah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah untuk mengembangkan rasa takut dalam diri kita sendiri. Rasa takut untuk berperilaku macam-macam yang akan menimbulkan resiko mendapatkan konsekuensi, secara tidak langsung akan membuat kita tersadar untuk menghindari perilaku tersebut bagaimanapun caranya. Pun rasa takut itu akan membuat kita untuk berusaha melakukan hal baik untuk mengalihkan pikiran dan juga\u00a0 menghindari hal-hal yang dapat merugikan diri kita sendiri serta orang lain.<\/span><\/span><\/p>\n<ul>\n<li aria-level=\"1\"><span style=\"color: #000000;\"><b>Menciptakan sebuah sistem hukum dalam lingkungan masyarakat<\/b><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Fungsi yang kelima dari sebuah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah untuk menciptakan sebuah mekanisme hukum bagi masyarakat. Peraturan, nilai, dan norma dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> diperlukan untuk mencapai suatu tujuan atau kesepakatan bersama dalam tatanan masyarakat.<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Dengan adanya mekanisme hukum tersebut, dimana aturan dan konsekuensi pelanggaran dijelaskan secara gamblang serta dapat diterima oleh setiap elemen masyarakat, maka kesadaran untuk tidak melakukan pelanggaran pun akan meningkat.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>Macam-macam bentuk pengendalian sosial<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_64635\" aria-describedby=\"caption-attachment-64635\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-medium wp-image-64635\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/Tempo.co-3-570x354.webp\" alt=\"\" width=\"570\" height=\"354\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-64635\" class=\"wp-caption-text\">Tempo.co<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Setidaknya ada lima bentuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang biasa dilakukan dalam keseharian tatanan masyarakat. Apa-apa saja bentuk dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tersebut?<\/span><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>1. Agama<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Agama merupakan bentuk pengendalian yang pertama. Dalam agama, tentunya kita diajarkan berbagai macam tuntunan untuk saling menjaga hubungan baik antara satu sama lain, bagaimana sebaiknya bersosialisasi, dan juga menjaga kualitas hubungan kita dengan Yang Maha Kuasa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Lebih lanjut lagi, terdapat bermacam-macam larangan dan juga perintah untuk menjauhi segala perkara buruk yang dapat menjadi penyimpangan sosial untuk menghindari sanksi, baik itu dalam agama maupun dalam masyarakat.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>2. Pendidikan<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Pendidikan merupakan bentuk pengendalian yang kedua. Semakin tinggi pendidikan yang individu tersebut miliki, maka semakin baik juga pemahaman mengenai nilai dan norma yang ada dalam masyarakat. Pun ia dapat mempraktikkan nilai dan norma itu dalam kehidupan sehari-hari dan membantu membawa perubahan terhadap sekitarnya.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>3. Sanksi<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Sanksi menjadi bentuk pengendalian ketiga yang diberikan kepada masyarakat. Sanksi atau hukuman dapat diberikan pada mereka yang melakukan pelanggaran terhadap norma dan nilai sosial. Pengendalian sosial contoh ini adalah ketika kita sekolah dan seseorang ditegur karena menyontek saat ujian, kemudian ia akan dibawa ke ruangan guru konseling untuk diberi sanksi sesuai peraturan sekolah yang berlaku.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Dengan langkah tersebut, siswa yang menyontek menjadi memiliki kesadaran untuk tidak melakukan hal tersebut di lain kesempatan. Kemudian, sanksi atau hukuman ini memiliki dua manfaat lain, yaitu membuat seseorang sadar terhadap kesalahan yang telah dirinya lakukan atas pelanggaran norma dan nilai sosial tertentu, serta dapat menjadi pengingat bagi yang lain untuk tidak melakukan pelanggaran yang sama.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>4. Teguran<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Teguran menjadi bentuk pengendalian yang keempat. Teguran dalam hal ini dapat\u00a0 dilakukan oleh seseorang maupun sebuah kelompok tertentu kepada pelaku pelanggaran norma sosial. Tentunya, pelanggaran yang dilakukan ini sudah sampai ke taraf yang dapat mengganggu keharmonisan lingkungan masyarakat tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Dengan melakukan teguran, seseorang dapat sekaligus memberikan kritik secara langsung serta terbuka. Alhasil, pelaku pelanggaran norma sosial tersebut perlahan-lahan sadar akan tindakan yang telah diperbuatnya.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>5. Gosip<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Bentuk pengendalian yang terakhir adalah gosip. Gosip sering disebut juga dengan desas-desus, dimana ia merupakan obrolan atau cerita negatif tentang seseorang. Walaupun bersifat negatif, tetapi gosip terbukti efektif untuk mengendalikan seseorang yang melanggar aturan atau norma sosial, karena secara tidak langsung ia akan merasa malu dan tidak nyaman dengan beredarnya obrolan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><b>BACA JUGA: <\/b><a style=\"color: #000000;\" href=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/rumput-paragis\/\"><b>Fakta Rumput Paragis yang Bisa Sembuhkan Berbagai Penyakit<\/b><\/a><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>Proses pengendalian sosial<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah kita membahas panjang lebar mengenai pengertian, tujuan, ciri-ciri, jenis, fungsi, serta bentuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, tibalah kita di penghujung diskusi yang akan mengangkat bagaimana cara dan proses <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berlangsung.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Berikut ini merupakan empat cara yang lazim digunakan dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">social control<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di tengah tatanan masyarakat yang berlaku.<\/span><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>1. Persuasif<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Cara pertama yang digunakan pada adalah cara pengendalian sosial persuasif. Ketika cara persuasif digunakan, biasanya tidak terdapat kekerasan yang akan diterima pelaku penyimpangan sosial. Cara persuasif umumnya meliputi pemberian nasihat, pemberian himbauan, serta pemberian bimbingan agar di masa depan orang tersebut tidak melakukan pelanggaran lagi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Cara persuasif lazim digunakan dalam lingkungan masyarakat dengan wujud lisan, atau bisa juga dengan wujud simbolik yang berbentuk spanduk, poster, iklan layanan masyarakat, dan lain sebagainya yang disebarkan secara luas.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>2. Koersif<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Cara kedua yang digunakan adalah cara pengendalian sosial koersif. Ketika cara persuasif ini digunakan, biasanya terjadi sebuah paksaan atau kekerasan terhadap pelaku pelanggaran nilai dan norma sosial. Kekerasan tersebut dapat berupa fisik maupun psikis. Cara koersif acap kali dilakukan oleh pihak yang berwenang apabila mereka sudah tidak memiliki cara lain untuk menyadarkan pelaku tersebut bahwa tindakan yang telah ia lakukan adalah salah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Namun, cara koersif ini juga dapat menimbulkan konsekuensi lebih lanjut, seperti reaksi negatif dari pihak-pihak lain yang merasa dirugikan. Contoh umum yang dapat kita amati adalah pengusiran dan penertiban pedagang kaki lima atau PKL yang berjualan di jalan raya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Penertiban tersebut perlu untuk dilakukan, karena memang pada kenyataannya lapak para PKL ini membuat jalanan menjadi sempit dan menimbulkan kemacetan yang panjang. Maka dari itu, seringkali polisi dan pihak berwenang lain memperingati mereka untuk berpindah, namun terkadang tidak digubris hingga akhirnya menggunakan cara koersif dan pecah keributan.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>3. Sosialisasi<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Cara ketiga yang digunakan adalah menggunakan cara sosialisasi. ketika menggunakan cara ini, elemen-elemen masyarakat diarahkan untuk menciptakan sebuah kebiasaan serta menanamkan nilai dan norma yang berlaku.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Sosialisasi dapat dilakukan terhadap masyarakat sekitar. Dengan melakukan pengenalan mengenai norma dan nilai yang berlaku, diharapkan terdapat peningkatan atas pengaplikasiannya dalam sikap dan tingkah laku masyarakat.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>4. Penekanan sosial<\/b><\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Cara terakhir dapat dilakukan melalui penekanan sosial. Tujuan dari penekanan sosial ini adalah untuk mengendalikan tingkah laku setiap individu dan kelompok masyarakat.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Penekanan sosial yang terjadi pada sebuah lingkungan masyarakat dapat menanamkan dalam nilai, aturan, serta norma yang berlaku. Dengan begitu, kehidupan masyarakat akan terjamin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><div class=\"rltdpstsplgn-related-post-block\"><h4 class=\"rltdpstsplgn-related-title\"><\/h4><p>No related posts found...<\/p><\/div><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Nah Sedulur, itu dia ulasan lengkap mengenai pengertian pengendalian sosial dan juga fungsi, jenis, dan aspek-aspek penting lain dari kegiatan tersebut. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan serta pengetahuan umum Sedulur, ya!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mau belanja bulanan nggak pakai ribet? <\/span><\/i><b><i>Aplikasi Super<\/i><\/b><i><span style=\"font-weight: 400;\"> solusinya! Mulai dari sembako hingga kebutuhan rumah tangga tersedia lengkap. Selain harganya murah, Sedulur juga bisa merasakan kemudahan belanja lewat handphone. Nggak perlu keluar rumah, belanjaan pun langsung diantar.<\/span><\/i><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi Sedulur yang punya toko kelontong atau warung, bisa juga lho belanja grosir atau kulakan lewat <\/span><\/i><b><i>Aplikasi Super<\/i><\/b><i><span style=\"font-weight: 400;\">. Harga dijamin lebih murah dan bikin untung makin melimpah.<\/span><\/i><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":25,"featured_media":64603,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[9005,9007,9006],"class_list":["post-64602","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-pengendalian-sosial","tag-pengendalian-sosial-adalah","tag-pengertian-pengendalian-sosial"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Pengertian Pengendalian Sosial Beserta Jenis dan Fungsinya<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Pengendalian sosial adalah sebuah mekanisme untuk mengontrol masyarakat. Berikut ini merupakan penjelasan lengkapnya.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/pengendalian-sosial\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pengertian Pengendalian Sosial Beserta Jenis dan Fungsinya\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pengendalian sosial adalah sebuah mekanisme untuk mengontrol masyarakat. Berikut ini merupakan penjelasan lengkapnya.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/pengendalian-sosial\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Belanja Kebutuhan Pokok\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-07-18T12:00:35+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-07-18T08:10:27+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/7-2-1.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"682\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"536\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/webp\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Muhammad Iqbal\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Muhammad Iqbal\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"13 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/#website\",\"url\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/\",\"name\":\"Belanja Kebutuhan Pokok\",\"description\":\"Belanja Kebutuhan Pokok\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/pengendalian-sosial\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/7-2-1.webp\",\"contentUrl\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/7-2-1.webp\",\"width\":682,\"height\":536},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/pengendalian-sosial\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/pengendalian-sosial\/\",\"name\":\"Pengertian Pengendalian Sosial Beserta Jenis dan Fungsinya\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/pengendalian-sosial\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2022-07-18T12:00:35+00:00\",\"dateModified\":\"2022-07-18T08:10:27+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/16fe84a4ea0e4694c58531b19dc41cff\"},\"description\":\"Pengendalian sosial adalah sebuah mekanisme untuk mengontrol masyarakat. Berikut ini merupakan penjelasan lengkapnya.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/pengendalian-sosial\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/pengendalian-sosial\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/pengendalian-sosial\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Pengertian Pengendalian Sosial Beserta Jenis dan Fungsinya\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/16fe84a4ea0e4694c58531b19dc41cff\",\"name\":\"Muhammad Iqbal\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b38228e369a9a8927e1a6aadf91b205?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b38228e369a9a8927e1a6aadf91b205?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Muhammad Iqbal\"},\"description\":\"Content Writer at Aplikasi Super.\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Pengertian Pengendalian Sosial Beserta Jenis dan Fungsinya","description":"Pengendalian sosial adalah sebuah mekanisme untuk mengontrol masyarakat. Berikut ini merupakan penjelasan lengkapnya.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/pengendalian-sosial\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Pengertian Pengendalian Sosial Beserta Jenis dan Fungsinya","og_description":"Pengendalian sosial adalah sebuah mekanisme untuk mengontrol masyarakat. Berikut ini merupakan penjelasan lengkapnya.","og_url":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/pengendalian-sosial\/","og_site_name":"Belanja Kebutuhan Pokok","article_published_time":"2022-07-18T12:00:35+00:00","article_modified_time":"2022-07-18T08:10:27+00:00","og_image":[{"width":682,"height":536,"url":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/7-2-1.webp","type":"image\/webp"}],"author":"Muhammad Iqbal","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Muhammad Iqbal","Est. reading time":"13 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/superapp.id\/blog\/","name":"Belanja Kebutuhan Pokok","description":"Belanja Kebutuhan Pokok","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/superapp.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/pengendalian-sosial\/#primaryimage","url":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/7-2-1.webp","contentUrl":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/7-2-1.webp","width":682,"height":536},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/pengendalian-sosial\/#webpage","url":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/pengendalian-sosial\/","name":"Pengertian Pengendalian Sosial Beserta Jenis dan Fungsinya","isPartOf":{"@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/pengendalian-sosial\/#primaryimage"},"datePublished":"2022-07-18T12:00:35+00:00","dateModified":"2022-07-18T08:10:27+00:00","author":{"@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/16fe84a4ea0e4694c58531b19dc41cff"},"description":"Pengendalian sosial adalah sebuah mekanisme untuk mengontrol masyarakat. Berikut ini merupakan penjelasan lengkapnya.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/pengendalian-sosial\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/pengendalian-sosial\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/pengendalian-sosial\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/superapp.id\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Pengertian Pengendalian Sosial Beserta Jenis dan Fungsinya"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/16fe84a4ea0e4694c58531b19dc41cff","name":"Muhammad Iqbal","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b38228e369a9a8927e1a6aadf91b205?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/0b38228e369a9a8927e1a6aadf91b205?s=96&d=mm&r=g","caption":"Muhammad Iqbal"},"description":"Content Writer at Aplikasi Super."}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64602"}],"collection":[{"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/25"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=64602"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64602\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":64638,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/64602\/revisions\/64638"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/64603"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=64602"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=64602"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=64602"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}