{"id":44157,"date":"2022-03-24T18:45:54","date_gmt":"2022-03-24T11:45:54","guid":{"rendered":"https:\/\/superapp.id\/blog\/?p=44157"},"modified":"2022-03-24T10:49:52","modified_gmt":"2022-03-24T03:49:52","slug":"dekubitus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/dekubitus\/","title":{"rendered":"Ulkus Dekubitus: Pengertian, Gejala, Penyebab &#038; Pengobatan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #000000;\">Pasien dengan keterbatasan sistem gerak, memiliki resiko mengalami sejumlah gangguan kesehatan, salah satunya yakni dekubitus ulkus atau yang biasa disebut sebagai luka baring. Hal ini dikarenakan kondisi tersebut muncul pada pasien yang terlalu sering berbaring.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Kondisi semacam ini, ditandai dengan kematian kerusakan jaringan di bagian kulit yang selalu mendapat tekanan. Jika dilihat secara kasat mata, akan nampak perbedaan warna dan tekstur kulit di area yang terkena luka baring tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Lalu apakah penderita dekubitus bisa meninggal? Atau bisa sembuh seperti sediakala? Langsung saja, simak informasi yang akan dijelaskan di bawah ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>BACA JUGA:\u00a0<\/strong><\/span><strong><a href=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/ciri-ciri-maag\/\">12 Ciri-ciri Penyakit Maag Kambuh &amp; Pertolongan Pertamanya<\/a><\/strong><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><strong>Apa itu ulkus dekubitus?<\/strong><\/span><\/h2>\n<figure style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/res.cloudinary.com\/dk0z4ums3\/image\/upload\/v1525261849\/attached_image\/ulkus-dekubitus-alodokter.jpg\" alt=\"dekubitus\" width=\"650\" height=\"433\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\"><em>Alodokter<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Dekubitus merupakan luka pada kulit dan juga jaringan yang ada di bawahnya. Luka ini bisa muncul akibat tekanan secara berkepanjangan pada bagian kulit tertentu, setelah pasien berada pada posisi berbaring terus-menerus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Kondisi seperti ini juga dikenal sebagai dekubitus luka atau luka decubitus luka baring (<em>bedsores<\/em>). Umumnya, luka baring akan diderita oleh para pasien dengan suatu penyakit, yang pada akhirnya mengharuskan mereka untuk membatasi gerak tubuhnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Penyakit itulah yang membuat pasien terus berbaring di tempat tidur atau duduk di kursi roda dalam waktu lama, sehingga terdapat suatu bagian tubuh yang terus mendapat tekanan. Nah, pada akhirnya luka baring ini muncul sebagai masalah baru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Untuk bagian tubuh yang paling sering mengalami luka decubitus, yakni di bagian dekat tulang yang banyak mendapat tekanan pada saat berbaring atau di atas kursi roda. Pada pasien yang lama berbaring, bagian yang sering terkena yaitu tumit, kaki, pinggul, pergelangan dan juga tulang ekor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Sedangkan untuk para pasien pengguna kursi roda, umumnya luka baring akan muncul di bagian tulang ekor, bokong, tulang belakang, punggung lengan, tulang belikat, dan kaki yang digunakan untuk bersandar pada kursi roda.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><strong>Gejala umum decubitus<\/strong><\/span><\/h2>\n<figure style=\"width: 990px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/caredise.com\/wp-content\/uploads\/2018\/12\/Ulkus-Dekubitus.jpg\" alt=\"dekubitus\" width=\"1000\" height=\"650\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\"><em>Caredise<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Area kulit terasa lebih dingin saat disentuh.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Area kulit terasa hangat saat disentuh.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Infeksi<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Warna kulit berubah menjadi lebih pucat saat disentuh.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Kulit yang lecet atau luka terbuka.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Kulit terasa lebih keras atau keras dibanding kulit di sekitarnya.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Perubahan tekstur dan warna kulit<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Rasa sakit di bagian yang terkena ulkus<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><strong>Dekubitus <em>grade<\/em><\/strong><\/span><\/h2>\n<figure style=\"width: 677px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn-brilio-net.akamaized.net\/news\/2022\/03\/15\/224983\/1691041-ulkus-dekubitus-adalah-luka-pada-kulit-.jpg\" alt=\"dekubitus\" width=\"687\" height=\"465\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\"><em>Brilio<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Gejala luka baring itu juga bisa berbeda-beda, tergantung dengan <em>grade <\/em>atau tahapannya. Apakah pasien sudah memperoleh penanganan yang tepat, atau masih dibutuhkan penanganan secara lebih lanjut. Nah, berikut ini ulkus dekubitus <em>grade<\/em> menurut tahapan kemunculannya.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><strong>Tahap 1<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Kulit terlihat kemerahan, atau menunjukkan adanya perubahan warna yang bisa saja bervariasi. Selain itu, mungkin saja kulit akan hangat, keras, dan juga nyeri pada saat disentuh.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><strong>Tahap 2<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Kemunculan luka terbuka di bagian kulit yang berwarna kemerahan. Hal itu juga dapat disertai dengan gejala lain seperti lepuhan.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><strong>Tahap 3<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Untuk dekubitus grade 3, luka yang timbul akan semakin dalam. Bisa saja luka yang dalam tersebut juga disertai dengan keluarnya nanah.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><strong>Tahap 4<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pada tahapan ini, luka telah menembus lapisan kulit yang paling dalam. Sehingga otot dan tulang mungkin sudah rusak karenanya. Bahkan, terbentuk suatu jaringan mati yang berwarna kehitaman.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><strong>Tahap akhir <\/strong><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Untuk tahap akhir ini, warna luka akan menjadi kuning atau hijau dengan adanya lapisan cokelat nanah di bagian atasnya. Jika dalam tahap yang satu ini lapisan bersifat basah, maka segera periksakan diri ke dokter.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><strong>Penyebab luka baring<\/strong><\/span><\/h2>\n<figure style=\"width: 990px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cms.sehatq.com\/public\/img\/article_img\/sulitkah-proses-penyembuhan-luka-penderita-ulkus-dekubitus-1562573830.jpg\" alt=\"dekubitus\" width=\"1000\" height=\"500\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\">Sehatq<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Seperti yang kita tahu, suatu kondisi tertentu mengharuskan pasien untuk menjalani perawatan sembari beristirahat secara total di atas tempat tidur dalam waktu yang cukup lama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Perawatan yang juga disebut sebagai tirah baring ini, umumnya dialami oleh pasien yang menderita lumpuh, koma, maupun mempunyai keterbatasan gerak akibat kondisi tertentu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Ketika berbaring di tempat tidur secara terus menerus, maka tubuh akan mendapat tekanan secara konstan. Tekanan tersebut akan menghambat aliran darah menuju ke dalam jaringan. Padahal, darah memiliki peranan penting untuk membawa suplai nutrisi oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Tanpa adanya asupan nutrisi oksigen yang memadai, maka kulit dan jaringan yang ada di sekitarnya akan bisa rusak atau bahkan mengalami kematian jaringan. Dan pada akhirnya, terbentuk sebuah luka terbuka yang akan terus bertambah lebar apabila tidak segera mendapat pengobatan yang tepat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pembentukan luka bisa menjadi lebih cepat jika kulit terlalu sering bergesekan dengan pakaian maupun seprai. Gesekan secara terus-menerus inilah yang membuat kulit lebih mudah mengalami kerusakan dan cedera, terlebih lagi jika kondisi kulit sering lembab.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Selain itu, pergeseran posisi tubuh juga dapat mendukung pembentukan luka baring. Misalnya saja, pada saat ranjang ditinggikan, kemungkinan badan pasien akan merosot ke bawah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Orang-orang dengan luka dekubitus, umumnya mengalami keterbatasan gerak dan sulit untuk mengubah posisinya saat duduk maupun berbaring. Ketika tulang ekor digerakkan, kulit tetap berada di tempatnya sehingga kulit akan tertarik ke arah yang berlawanan.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><strong>Faktor lain terjadinya luka baring<\/strong><\/span><\/h2>\n<figure style=\"width: 734px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/images.bisnis-cdn.com\/thumb\/posts\/2021\/12\/17\/1478748\/ilustrasi.jpg?w=744&amp;h=465\" alt=\"dekubitus\" width=\"744\" height=\"465\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\"><em>Lifestyle<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Selain penyebab-penyebab yang sudah dijelaskan di atas, terdapat faktor lain yang juga bisa meningkatkan risiko seseorang terkena luka baring. Berikut ini beberapa faktor lain yang dimaksud.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><strong>Kekurangan asupan cairan dan nutrisi<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Kondisi semacam ini akan membuat kesehatan daya tahan kulit terganggu, sehingga kerusakan jaringan kulit lebih mudah terjadi.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><strong>Menurunnya kemampuan indera perasa<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Gangguan saraf serta cedera saraf tulang belakang, bisa menyebabkan kemampuan indera perasa menurun dan luka tidak akan terasa. Jika luka tidak segera diobati, maka akan menjadi semakin dalam.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><strong>Terganggunya aliran darah<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Aliran darah yang terganggu akibat penyakit jantung, diabetes, <em>multiple sclerosis<\/em>, maupun gagal ginjal, bisa saja meningkatkan risiko kerusakan jaringan karena suplai nutrisi dan oksigen ke area tersebut tidak cukup.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><strong>Kondisi kulit yang rentan<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pasien dengan keterbatasan gerak, akan kesusahan saat haru buang air kecil maupun buang air besar. Nah, karena terlalu sering terkena feses atau urine, maka kulit bisa menjadi rentan.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><strong>Diagnosis ulkus dekubitus<\/strong><\/span><\/h2>\n<figure style=\"width: 634px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/obs.line-scdn.net\/0h-_udxb9dcnBIHWY4v3gNJ3BLfgF7e2h5an87EWsaKkBgMWcndn4hEz1OKVxtLGBzaH84RW8ZKEdieTQjJw\/w644\" alt=\"dekubitus\" width=\"644\" height=\"452\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\"><em>Brilio<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Dalam tahapan awal diagnosis, dokter akan memeriksa bagian-bagian tubuh pasien yang rentan terkena luka baring. Jika ditemukan adanya tanda-tanda luka baring tersebut, kemudian dokter akan menentukan tingkat keparahan atau <em>grade <\/em>dari luka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Setelah berhasil menentukan tingkat keparahan, makan dokter akan memberikan jenis pengobatan yang paling sesuai. Bila perlu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penunjang. Contohnya seperti tes darah, dengan tujuan untuk mengetahui kondisi pasien, sekaligus mendeteksi ada tidaknya penyakit lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>BACA JUGA:\u00a0<\/strong><\/span><strong><a href=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/penyakit-jantung\/\">Penyakit Jantung \u2013 Kenali Gejala, Penyebab &amp; Pengobatannya<\/a><\/strong><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><strong>Pengobatan luka baring<\/strong><\/span><\/h2>\n<figure style=\"width: 710px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.hill-rom.com\/globalassets\/mast_cli_pressure_ulcers.jpg\" alt=\"dekubitus\" width=\"720\" height=\"320\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\"><em>Caredise<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, dokter akan mengamati kondisi kulit untuk mengetahui tingkatan atau kategori luka baring yang dialami. Dengan menentukan kategorinya, maka dokter bisa merekomendasikan penanganan yang tepat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Nah, dilansir dari laman Mayo Clinic, berikut ini beberapa tahap perawatan untuk masalah luka baring.<\/span><\/p>\n<ol>\n<li><strong><span style=\"color: #000000;\">Mengurangi tekanan<\/span><\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pasien bisa mengurangi tekanan yang berlebih di bagian kulit yang mengalami luka baring dengan mengubah posisi tubuh saat berbaring atau duduk secara berkala.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Selain itu, pasien mungkin juga membutuhkan matras, kasur, atau bantalan khusus yang dapat melindungi bagian kulit yang rentan terhadap luka.<\/span><\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><span style=\"color: #000000;\"><strong>Membersihkan dan menutup luka<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Luka baring ini perlu dibersihkan dengan menggunakan air maupun larutan garam dengan konsentrasi tertentu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Kemudian, luka tersebut harus menutup luka dengan gel, perban, busa, ataupun penutup lain yang memang disarankan untuk mencegah terjadinya infeksi.<\/span><\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><span style=\"color: #000000;\"><strong>Menggunakan salep dekubitus<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Jika luka baring yang timbul tidak terlalu parang, biasanya dokter akan meresapkan sebuah salep khusus untuk luka baring. Namun jika dirasa sudah cukup parah dan salep tidak efektif, maka akan dilakukan tindakan lebih lanjut.<\/span><\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li><span style=\"color: #000000;\"><strong>Membuang jaringan yang rusak<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Dokter akan membuang jaringan yang mati, rusak, atau terinfeksi secara rutin. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk membersihkan bagian sekitar luka baring, sehingga pemulihan kulit dapat terjadi secara lebih cepat.<\/span><\/p>\n<ol start=\"5\">\n<li><span style=\"color: #000000;\"><strong>Tindakan operasi<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Luka baring yang berukuran besar dan sudah tidak bisa pulih, mungkin saja perlu ditangani dengan tindakan operasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Operasi ini dilakukan untuk menutup jaringan luka. Selain itu, otot atau tulang yang terekspos juga akan diberi bantalan pelindung khusus.<\/span><\/p>\n<ol start=\"6\">\n<li><span style=\"color: #000000;\"><strong>Konsumsi obat pereda nyeri dan pola makan<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Mungkin saja dokter akan membuatkan resep obat pereda nyeri nonsteroid, misalnya seperti ibuprofen atau naproxen agar nyeri pada area luka bisa berkurang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Selain itu, pasien juga dianjurkan untuk mengonsumsi makanan bergizi seimbang agar pemulihan jaringan bisa dilakukan secara lebih optimal.<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><strong>Pencegahan luka dekubitus<\/strong><\/span><\/h2>\n<figure style=\"width: 776px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.galerimedika.com\/image\/catalog\/pavblog\/img\/Dekubitus-2.jpg\" alt=\"\" width=\"786\" height=\"430\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\"><em>Galeri Medika<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Jika ada seorang pasien yang berisiko mempunyai masalah ulkus dekubitus, maka di bawah ini ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mencegahnya terjadi.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Rutin berolahraga di kursi roda jika memungkinkan, misalnya seperti mengangkat badan sempari bertumpu dengan tangan di atas kursi roda.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Selalu memeriksa kondisi kulit tiap hari untuk mengawasi tanda-tanda kemunculan luka baring.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Mengatur kemiringan ranjang supaya tidak lebih dari 30 derajat. Dengan ini, maka tubuh pasien tidak akan merosot.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Rutin mengganti pakaian dan juga seprai. Jangan lupa untuk menghindari bahan yang berpotensi membuat kulit iritasi.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Menggunakan matras, bantalan, maupun kasur khusus agar tekanan pada kulit bisa berkurang.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Menggunakan jenis kursi roda khusus yang dapat dimiringkan jika memungkinkan.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Mengubah posisi berbaring duduk sekitar satu jam sekali. Jika tidak bisa melakukannya sendiri, mintalah bantuan orang yang merawat.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Tetap menjaga kondisi kulit agar tetap bersih dan kering.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><strong>Komplikasi luka baring<\/strong><\/span><\/h2>\n<figure style=\"width: 630px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/cdn1-production-images-kly.akamaized.net\/vD8wFbM5MQLMoOctxA13v0m9epU=\/640x360\/smart\/filters:quality(75):strip_icc():format(jpeg)\/kly-media-production\/medias\/3715053\/original\/039582400_1639551312-ill-male-patient-bed-talking-nurse_23-2148981216.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"360\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\"><em>Liputan6<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Terdapat beberapa komplikasi yang bisa timbul apabila luka baring atau ulkus dekubitus ini tidak segera ditangani, yakni sebagai berikut.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><strong>Selulitis <\/strong><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Seluitis ini bisa terjadi karena adanya infeksi di bagian kulit dan jaringan lunak. Kondisi semacam ini bisa menyebabkan peradangan dan kemerahan di area sekitar luka.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><strong>Infeksi tulang dan sendi<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Kemudian untuk infeksi tulang dan sendi, dapat diakibatkan oleh penyebaran infeksi yang berasal dari kulit dan jaringan lunak.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><strong>Sepsis<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Sepsis merupakan kondisi di mana infeksi telah menyebar ke aliran darah, dan akhirnya menimbulkan reaksi sistem imun di seluruh bagian tubuh.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><strong>Kanker<\/strong><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Jika luka yang diderita tak kunjung sembuh, maka bisa saja luka baring tersebut menjadi kanker (ulkus Marjolin).<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><strong>Kapan harus ke dokter?<\/strong><\/span><\/h2>\n<figure style=\"width: 692px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/d1bpj0tv6vfxyp.cloudfront.net\/articles\/443236_20-10-2020_16-9-19.jpeg\" alt=\"\" width=\"702\" height=\"465\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\"><em>Halodoc<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Pasien yang tidak bisa bergerak dalam waktu yang lama, entah itu di tempat tidur maupun di kursi roda, maka harus rutin diperiksa oleh perawat atau anggota keluarga yang menjaganya. Hal ini dilakukan agar kondisi pasien bisa diketahui secara dini jika mengalami ulkus dekubitus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Apabila sudah mulai muncul luka baring tingkat pertama, maka segeralah berkonsultasi ke dokter. Nantinya, dokter dan tim medis akan melakukan perawatan luka yang tepat, sekaligus mengajarkan bagaimana cara untuk merawat luka kepada orang yang merawat pasien tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Selama masa perawatan luka baring di rumah, segeralah kembali berobat ke dokter bila muncul tanda-tanda baru di area luka seperti berikut.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Bengkak<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Keluar nanah<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Demam<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><strong>Apa yang harus dipersiapkan sebelum konsultasi?<\/strong><\/span><\/h2>\n<figure style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.alodokter.com\/wp-content\/uploads\/2018\/08\/Mengenal-tentang-Konsultasi-Program-Hamil-alodokter.jpg\" alt=\"\" width=\"650\" height=\"433\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\"><em>Alodokter<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Sebelum pasien datang dan berkonsultasi dengan dokter, maka pasien perlu mempersiapkan beberapa hal seperti yang ada di bawah ini:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Membuat daftar terkait gejala yang dirasakan.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Mencatat riwayat penyakit yang sedang dan pernah dialami, demikian dengan riwayat medis keluarga.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Mencatat semua suplemen, obat, obat herbal, maupun vitamin yang dikonsumsi.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Mencatat pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada dokter.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Meminta keluarga atau kerabat untuk mendampingi ketika berkonsultasi. Mereka dapat memberikan dukungan moral ataupun membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><strong>Apa pertanyaan yang diajukan dokter?<\/strong><\/span><\/h2>\n<figure style=\"width: 630px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/image-cdn.medkomtek.com\/XOn_-3lSjTOlccgwVowJ2WURVL0=\/640x480\/smart\/klikdokter-media-buckets\/medias\/2307909\/original\/011808500_1566981649-_X_-Alasan-Perlu-Konsultasi-dengan-Dokter-Sebelum-Minum-Suplemen-By-Wavebreakmedia-Shutterstock.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"480\" \/><figcaption class=\"wp-caption-text\"><em>KlikDokter<\/em><\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Ketika berkonsultasi, sejumlah pertanyaan yang umumnya diajukan oleh dokter mungkin saja seperti berikut.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Kapan pertama penyakit ini kali muncul?<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Apa saja pengobatan yang sudah dijalani? Dan bagaimana hasilnya?<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Apakah pasien pernah mengalami penyakit ini sebelumnya?<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Bagaimana dengan kondisi medis yang dialami?<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Apa ada pengobatan yang sedang dijalani saat ini?<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Seberapa parah tingkat nyeri di bagian luka baring yang dialami?<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Seperti apa pola makanan harian dan juga asupan cairan pasien?<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\">Seperti apa rutinitas penggantian posisi yang selama ini dilakukan?<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>Bila pertanyaan ini muncul, sebaiknya Sedulur menjelaskan secara rinci sehingga dokter bisa mendiagnosa setiap keluhan dengan tepat. Keberhasilan dalam diagnosa awal saat konsultasi biasanya bisa meningkatkan resiko kesembuhan suatu penyakit.<\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><strong>BACA JUGA:\u00a0<\/strong><\/span><strong><a href=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/ejakulasi-dini\/\">Penyakit Ejakulasi Dini, Kenali Penyebab, Gejala &amp; Mengobatinya<\/a><\/strong><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Sampai di sini Sedulur sudah tahu kan, apakah dekubitus bisa sembuh atau tidak. Ya, sebagian besar luka baring itu bisa disembuhkan dengan menjalani pengobatan. Akan tetapi, ada pula luka yang tidak dapat sembuh sepenuhnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Jadi, apabila Sedulur memiliki resiko menderita luka baring, waspadai gejala yang terjadi dan lakukan upaya pencegahan sedini mungkin. Tidak perlu ragu untuk langsung menghubungi dokter untuk segera menangani permasalahan tersebut.<\/span><\/p>\n<div class=\"rltdpstsplgn-related-post-block\"><h4 class=\"rltdpstsplgn-related-title\"><\/h4><p>No related posts found...<\/p><\/div>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><em>Sedulur yang membutuhkan sembako, bisa membeli di <strong>Aplikasi Super<\/strong> lho! Sedulur akan mendapatkan harga yang lebih murah dan kemudahan belanja hanya lewat ponsel. Yuk unduh aplikasinya <a href=\"https:\/\/play.google.com\/store\/apps\/details?id=com.superagent.agent&amp;hl=id&amp;utm_source=artikelblog&amp;utm_medium=cpc&amp;utm_campaign=ps\"><strong>di sini<\/strong> <\/a>sekarang.<\/em><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":15,"featured_media":44439,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5686,1719,2906],"class_list":["post-44157","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-debiktus","tag-kesehatan","tag-penyakit"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Ulkus Dekubitus: Pengertian, Gejala, Penyebab &amp; Pengobatan<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Apa itu ulkus dekubitus? Ulkus dekubitus juga disebut bedsore atau pressure ulcer. Hal ini adalah kondisi cedera pada kulit dan jaringan.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/dekubitus\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ulkus Dekubitus: Pengertian, Gejala, Penyebab &amp; Pengobatan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Apa itu ulkus dekubitus? Ulkus dekubitus juga disebut bedsore atau pressure ulcer. Hal ini adalah kondisi cedera pada kulit dan jaringan.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/dekubitus\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Belanja Kebutuhan Pokok\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-03-24T11:45:54+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-03-24T03:49:52+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/7-4-3.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"682\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"536\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Yusuf Jati Winahto\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Yusuf Jati Winahto\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"12 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/#website\",\"url\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/\",\"name\":\"Belanja Kebutuhan Pokok\",\"description\":\"Belanja Kebutuhan Pokok\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/dekubitus\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/7-4-3.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/7-4-3.jpg\",\"width\":682,\"height\":536,\"caption\":\"Dekubitus Laura Anna\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/dekubitus\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/dekubitus\/\",\"name\":\"Ulkus Dekubitus: Pengertian, Gejala, Penyebab & Pengobatan\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/dekubitus\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2022-03-24T11:45:54+00:00\",\"dateModified\":\"2022-03-24T03:49:52+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/2334f86433d7c39f89ceec361dccdee8\"},\"description\":\"Apa itu ulkus dekubitus? Ulkus dekubitus juga disebut bedsore atau pressure ulcer. Hal ini adalah kondisi cedera pada kulit dan jaringan.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/dekubitus\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/dekubitus\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/dekubitus\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ulkus Dekubitus: Pengertian, Gejala, Penyebab &#038; Pengobatan\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/2334f86433d7c39f89ceec361dccdee8\",\"name\":\"Yusuf Jati Winahto\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/4cfbd70badf05ecda2b202687860b8e9?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/4cfbd70badf05ecda2b202687860b8e9?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Yusuf Jati Winahto\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ulkus Dekubitus: Pengertian, Gejala, Penyebab & Pengobatan","description":"Apa itu ulkus dekubitus? Ulkus dekubitus juga disebut bedsore atau pressure ulcer. Hal ini adalah kondisi cedera pada kulit dan jaringan.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/dekubitus\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ulkus Dekubitus: Pengertian, Gejala, Penyebab & Pengobatan","og_description":"Apa itu ulkus dekubitus? Ulkus dekubitus juga disebut bedsore atau pressure ulcer. Hal ini adalah kondisi cedera pada kulit dan jaringan.","og_url":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/dekubitus\/","og_site_name":"Belanja Kebutuhan Pokok","article_published_time":"2022-03-24T11:45:54+00:00","article_modified_time":"2022-03-24T03:49:52+00:00","og_image":[{"width":682,"height":536,"url":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/7-4-3.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Yusuf Jati Winahto","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Yusuf Jati Winahto","Est. reading time":"12 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/superapp.id\/blog\/","name":"Belanja Kebutuhan Pokok","description":"Belanja Kebutuhan Pokok","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/superapp.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/dekubitus\/#primaryimage","url":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/7-4-3.jpg","contentUrl":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/7-4-3.jpg","width":682,"height":536,"caption":"Dekubitus Laura Anna"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/dekubitus\/#webpage","url":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/dekubitus\/","name":"Ulkus Dekubitus: Pengertian, Gejala, Penyebab & Pengobatan","isPartOf":{"@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/dekubitus\/#primaryimage"},"datePublished":"2022-03-24T11:45:54+00:00","dateModified":"2022-03-24T03:49:52+00:00","author":{"@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/2334f86433d7c39f89ceec361dccdee8"},"description":"Apa itu ulkus dekubitus? Ulkus dekubitus juga disebut bedsore atau pressure ulcer. Hal ini adalah kondisi cedera pada kulit dan jaringan.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/dekubitus\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/dekubitus\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/dekubitus\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/superapp.id\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ulkus Dekubitus: Pengertian, Gejala, Penyebab &#038; Pengobatan"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/2334f86433d7c39f89ceec361dccdee8","name":"Yusuf Jati Winahto","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/4cfbd70badf05ecda2b202687860b8e9?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/4cfbd70badf05ecda2b202687860b8e9?s=96&d=mm&r=g","caption":"Yusuf Jati Winahto"}}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44157"}],"collection":[{"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/15"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44157"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44157\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":44441,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44157\/revisions\/44441"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44439"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44157"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44157"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44157"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}