{"id":34099,"date":"2022-02-02T18:00:43","date_gmt":"2022-02-02T11:00:43","guid":{"rendered":"https:\/\/superapp.id\/blog\/?p=34099"},"modified":"2022-02-02T09:07:41","modified_gmt":"2022-02-02T02:07:41","slug":"down-syndrome","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/down-syndrome\/","title":{"rendered":"Down Syndrome: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mengutip CDC, Down<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> syndrome <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ialah kondisi di mana seseorang memiliki kromosom ekstra. Kromosom sendiri adalah bagian dari gen atau DNA yang menyusun tubuh makhluk hidup. Normalnya, manusia lahir dengan 46 kromosom. Pada kasus tersebut, bayi lahir dengan tambahan satu kromosom.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Lalu, apa dampaknya pada perkembangan bayi serta bagaimana menyikapinya? Berikut telah dijabarkan fakta-fakta penting dari kelainan genetik tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><b>BACA JUGA: <\/b><\/span><a href=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/parenting\/ciri-ciri-pubertas\/\">Tanda dan Ciri Ciri Pubertas pada Anak Perempuan &amp; Laki Laki<\/a><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>1. Apa itu <em>down <\/em><\/b><b><i>syndrome<\/i><\/b><b>?\u00a0<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_34119\" aria-describedby=\"caption-attachment-34119\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-34119 size-medium\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/downrightwonderful_166731699_439471160467766_4184726990950861160_n-1-570x468.jpg\" alt=\"down syndrome adalah\" width=\"570\" height=\"468\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-34119\" class=\"wp-caption-text\">Instagram @downrightwonderful<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang sudah disinggung pada pendahuluan, <em>down<\/em><\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> syndrome <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">terjadi saat seseorang lahir dengan kromosom yang melebihi jumlah normal. Kromosom manusia terdiri dari 23 pasang yang diturunkan dari orangtua, tetapi pengidap kelainan genetik ini memiliki satu kromosom tambahan yang merupakan salinan dari kromosom nomor 21. Salinan ini kemudian disebut dengan istilah trisomy 21 yang merujuk pada fakta bahwa pengidapnya memiliki tiga kromosom 21 yang seharusnya hanya dua seperti kromosom-kromosom lainnya.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi ini bisa pula terjadi pada hewan mamalia. Seperti kasus Kenny, harimau <em>down <\/em><\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">syndrome <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang sempat viral beberapa tahun lalu. Usianya cukup pendek karena komplikasi yang dideritanya.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>2. Sejarah istilah\u00a0<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_34120\" aria-describedby=\"caption-attachment-34120\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-34120 size-medium\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/el.cromosoma.de_.marieta_272941167_944113152927278_556309826598501126_n.webp-570x468.jpg\" alt=\"apa itu down syndrome\" width=\"570\" height=\"468\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-34120\" class=\"wp-caption-text\">Instagram @el.cromosoma.de.marieta<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Melansir dari\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Akhtar, dkk.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, istilah sindrom Down ditemukan pertama kali oleh dokter asal Inggris bernama John Langdon Down pada 1866. Namun, yang menemukan bahwa ini terjadi karena kelebihan kromosom 21 adalah seorang dokter asal Perancis, Jerome Lejeune. Meski begitu sebenarnya, tidak semua pengidapnya diasosiasikan dengan kondisi trisomy 21. Ada beberapa penyebab lain yang nantinya akan membagi kelainan genetik ini dalam beberapa tipe.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>3. Populasi pengidapnya di Indonesia dan dunia<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_34121\" aria-describedby=\"caption-attachment-34121\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-34121 size-medium\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/meissanurcahyo_272640545_5445123518849301_5475658862475092550_n.webp-570x468.jpg\" alt=\"penyebab down syndrome\" width=\"570\" height=\"468\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-34121\" class=\"wp-caption-text\">Instagram @meissanurcahyo<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Merujuk pada tulisan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Yulia Ariani, dkk.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Molecular Genetics &amp; Genomic Medicine <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">di 2017 sindrom Down adalah kondisi kelainan genetik yang paling umum di Indonesia dengan sekitar 300 ribu kasus yang tercatat menurut catatan Ikatan Sindroma Down Indonesia. Sementara, Kemenkes mencatat kasusnya sekitar 0,12% dari populasi pada 2010.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara estimasi kasusnya di dunia menurut <\/span><a style=\"color: #000000;\" href=\"https:\/\/www.un.org\/en\/observances\/down-syndrome-day\"><span style=\"font-weight: 400;\">PBB<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah 3000-5000 bayi per tahun. Atau bila dihitung dengan rasio adalah 1 dari 1000 bayi. PBB juga menetapkan 21 Maret sebagai Hari Sindrom Down Sedunia. Peringatan ini sudah dilakukan rutin tiap tahun sejak 2012 lalu dengan harapan orang makin akrab dengan sindrom Down dan tidak lagi mengasosiasikannya dengan stigma buruk.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><b>BACA JUGA: <\/b><\/span><a href=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/star-syndrome\/\">Apa Itu Star Syndrome? Ini 20 Ciri &amp; Cara Mengatasinya<\/a><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>4. Penyebab dan faktor risiko\u00a0<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_34126\" aria-describedby=\"caption-attachment-34126\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-34126 size-medium\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/elliejg16_zebedeemodel_144869454_263076535253428_738833279261722301_n-570x468.jpg\" alt=\"Penyebab dan faktor risiko\" width=\"570\" height=\"468\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-34126\" class=\"wp-caption-text\">Instagram @elliejg16_zebedeemodel<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh ini ilmuwan tidak menemukan faktor eksternal penyebab Down <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Polusi udara atau makanan yang dikonsumsi ibu hamil bukanlah penyebabnya. Penjelasannya akan kembali pada salinan kromosom 21. Namun, bagaimana hal tersebut bisa terjadi adalah sesuatu yang tidak bisa diprediksi dan dicegah dengan cara-cara tertentu.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Ahli sepakat bahwa kasus yang muncul bisa berkaitan dengan usia ibu. Perempuan yang hamil di usia 35 tahun ke atas memiliki risiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan sindrom Down. Walau begitu, CDC juga mengungkap bahwa sejauh ini kebanyakan bayi yang mengidap sindrom tersebut lahir dari ibu yang usianya kurang dari 35 tahun karena kebanyakan perempuan melahirkan di usia kurang dari 35.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sindrom Down juga bukan kelainan yang diturunkan dari orangtua ke anak. Menurut <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">National Down Syndrome Society Amerika Serikat<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> hanya 1% kasus di Amerika Serikat yang terjadi karena komponen genetik yang diturunkan dari orangtua.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>5. Gejala dan ciri khusus pengidap sindrom Down\u00a0<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_34106\" aria-describedby=\"caption-attachment-34106\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-34106 size-medium\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/pexels-cliff-booth-4058218-570x427.jpg\" alt=\"Gejala dan ciri\" width=\"570\" height=\"427\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-34106\" class=\"wp-caption-text\">pexels<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Anak atau individu yang lahir dengan sindrom Down akan memiliki ciri khusus yang terlihat jelas dari wajahnya. Apa saja ciri tersebut?\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bentuk wajah Down <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">syndrome <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">tampak datar terutama pada bagian dahi dan hidungnya<\/span><\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Mata berbentuk seperti kacang almond yang kecil dan bentuknya mengarah ke atas<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Ada titik putih pada bagian iris mata\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Leher pendek\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Telinga kecil\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Lidah cenderung menjulur keluar dari mulut\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Jari kelingking menekuk ke arah ibu jari\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Ototnya cenderung lemah dan sendinya longgar\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Lebih pendek dari anak atau individu seusianya\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memiliki <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">palmar crease <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yaitu garis horizontal tunggal yang melintang jelas pada telapak tangan. Individu tanpa sindrom Down bisa memilikinya, tetapi biasanya terdiri dari beberapa garis dan tampak putus alias tidak simetris. Tidak hanya untuk Down syndrome, garis seperti ini ini juga diasosiasikan pada pengidap sindrom Aarskog.\u00a0<\/span><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><b>BACA JUGA: <\/b><\/span><a href=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/pantangan-syaraf-kejepit\/\">5 Pantangan Syaraf Kejepit yang Wajib Kamu Hindari<\/a><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>6. Komplikasi yang biasanya menyertai\u00a0<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_34132\" aria-describedby=\"caption-attachment-34132\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-34132 size-medium\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/pexels-rodnae-productions-7403038-570x426.jpg\" alt=\"Komplikasi\" width=\"570\" height=\"426\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-34132\" class=\"wp-caption-text\">pexels<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Selain ciri-ciri fisik di atas, dampak Down <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">syndrome <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">pun akan muncul pada kondisi klinis pengidapnya. Melansir tulisan Akthar, dkk., umumnya pengidap sindrom ini akan mengalami komplikasi seperti berikut.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><b>Gangguan gastrointestinal<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> yang berkaitan dengan pencernaan. Anak dengan sindrom Down memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit GERD, konstipasi kronis, dan diare. Kebanyakan dari mereka juga mengidap penyakit celiac yang dipicu oleh konsumsi makanan yang mengandung gluten.\u00a0<\/span><\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><b><i>Congenital cardiac defects<\/i><\/b><b> (CHD) <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">sering jadi penyebab utama kematian pada pengidap sindrom Down terutama di 2 tahun pertama hidupnya. Kondisi ini cukup fatal karena berkaitan erat dengan jantung, untuk itu orang tua disarankan melakukan pengecekan di minggu pertama sejak kelahiran bayi dengan sindrom Down.\u00a0<\/span><\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><b>Kelainan darah <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">yang biasa menyerang pengidap Down <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">syndrome <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">antara lain neutrofilia, trombositopenia, dan polisitemia. Pengidapnya juga memiliki risiko menderita leukimia lebih besar dari orang biasa. Ini karena adanya proliferasi megakariosit yang tidak terkontrol.\u00a0<\/span><\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><b>Kelainan saraf <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">terutama ditandai dengan berkurangnya volume otak terutama pada bagian <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hippocampus<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cerebellum. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi ini membuat bayi Down <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">syndrome <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">akan mengalami keterlambatan bicara, kesulitan belajar hal baru, dan susah melakukan gerakan motorik. Mereka juga rawan terkena penyakit yang berhubungan dengan tulang dan otot, serta lebih rawan mengalami kejang. Di usia dewasa, mereka juga berisiko lebih tinggi mengalami demensia di usia yang cenderung muda.\u00a0<\/span><\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><b>Gangguan sistem endokrin <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">ditandai dengan disfungsi kelenjar tiroid, terutama hipotiroid. Sebagian pasien sindrom Down memproduksi hormon antibodi yang anti tiroid yang terus bertambah jumlahnya seiring pertambahan usia. Gangguan ini juga berakibat pada lambatnya proses perkembangan organ seksual seseorang. Pubertas mereka terlambat, sebagian bahkan ditemukan memiliki kelamin yang ambigu, penis dan testis yang kecil dan lain sebagainya.\u00a0<\/span><\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><b>Gangguan penglihatan <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">seperti katarak, blefaritis (peradangan kelopak mata), keratokonus (penipisan kornea mata), glaukoma, nystagmus (pergerakan mata yang tidak terkontrol), strabismus (mata juling), amblyopia (mata sayu akibat otot dan saraf yang tidak bekerja optimal), dan lain sebagainya.\u00a0<\/span><\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><b>Gangguan THT<\/b>. B<span style=\"font-weight: 400;\">iasanya anak dengan sindrom Down juga memiliki masalah dengan tenggorokan, hidung, dan telinga. Terutama penurunan level pendengaran yang disebabkan anomali pada struktur telinga dalam.\u00a0<\/span><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>7. Tipe Down <\/b><b><i>syndrome<\/i><\/b><b>\u00a0<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_34113\" aria-describedby=\"caption-attachment-34113\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-34113 size-medium\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/madelinesmodelling__272857060_461531725462251_5762971364187248461_n.webp-570x468.jpg\" alt=\"Tipe Down syndrome\" width=\"570\" height=\"468\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-34113\" class=\"wp-caption-text\">Instagram @madelinesmodelling_<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Masih merujuk CDC, setidaknya ada 3 tipe sindrom Down yang terdeteksi di dunia.\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><b>Trisomy 21 <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">adalah tipe sindrom Down yang paling umum dengan persentase pengidapnya sekitar 95 persen dari seluruh kasus. Kondisi ini membuat tiap sel pengidapnya memiliki 3 kromosom 21 yang seharusnya hanya 2.\u00a0<\/span><\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><b>Translocation Down syndrome<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> terjadi pada sekitar 3 persen dari seluruh kasus. Sebenarnya penyebab anak Down <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">syndrome <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">tipe ini masih berkaitan erat dengan kelebihan kromosom 21 tadi. Bedanya, kromosom yang lebih menempel pada kromosom lainnya. Biasanya kromosom 14.\u00a0<\/span><\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><b>Mosaic Down syndrome <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">adalah tipe paling langka yang terjadi pada 2 persen pengidap. Tipe ini terjadi saat tidak semua sel memiliki kelebihan kromosom 21, sehingga beberapa tetap memiliki sepasang saja. Anak dengan tipe ini tetap mempunyai ciri-ciri fisik yang diasosiasikan dengan sindrom Down, tetapi lebih sedikit karena sejumlah selnya tercipta dalam susunan yang normal.\u00a0<\/span><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>8. Cara diagnosis\u00a0<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_34127\" aria-describedby=\"caption-attachment-34127\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-34127 size-medium\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/pexels-cottonbro-5853667-570x468.jpg\" alt=\"diagnosis\" width=\"570\" height=\"468\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-34127\" class=\"wp-caption-text\">pexels<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, hingga kini tidak ada cara untuk mencegah sindrom Down terjadi pada kehamilan. Dokter hanya bisa melakukan deteksi atau diagnosis dini saat bayi masih berada dalam kandungan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Caranya dengan tes darah, kemudian digunakan metode tertentu seperti MSF-AP, PSQ, FISH, QF-PCR, dan salin sebagainya. Semuanya diklaim sebagai tes yang aman dan tidak akan menganggu perkembangan janin. Meski begitu, hasil tes tidak selalu akurat. Hasil bisa menunjukkan bahwa janin normal, tetapi hasil akhirnya baru bisa dipastikan saat bayi lahir.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><b>BACA JUGA: <\/b><\/span><a href=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/parenting\/autis-adalah\/\">Apa Itu Autisme? Kenali Ciri &amp; Penyebab Anak Autis Sejak Dini<\/a><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>9. Perawatan dan terapi yang disarankan\u00a0<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_34122\" aria-describedby=\"caption-attachment-34122\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-34122 size-medium\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/zacharygottsagen_245022302_831311517554620_3231071538719995384_n-570x468.jpg\" alt=\"Perawatan dan terapi\" width=\"570\" height=\"468\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-34122\" class=\"wp-caption-text\">Instagram @zacharygottsagen<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh ini tidak ada kasus yang menunjukkan bahwa Down <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> bisa sembuh. Kondisi ini akan bertahan seumur hidup seseorang. Namun, bukan berarti orang tua harus frustasi dan malu pada kondisi anak dengan Down <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">syndrome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Mereka punya masa depan yang sama dengan anak-anak lain, tetapi memang butuh perawatan dan perhatian khusus. <\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Terapi <em>down syndrome<\/em> sendiri adalah proses multidisiplin yang tidak hanya melibatkan ranah medis, tetapi juga psikologis. Berikut beberapa perlakuan yang disarankan.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Lakukan terapi dan pendidikan sedini mungkin untuk mengurangi risiko komplikasi dan meningkatkan kemampuan intelektual anak dengan sindrom Down. Dengan begitu, mereka punya harapan untuk tumbuh hingga usia dewasa dan berpotensi melakukan banyak hal. Sudah terbukti makin banyak orang dengan sindrom Down di dunia yang bisa berkiprah, bahkan di dunia hiburan. Baik menjadi model maupun aktor dan lain sebagainya.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Di usia dini, anak-anak bisa diajarkan bahasa isyarat untuk mempermudah komunikasinya dengan orang tua. Dengan begitu, mereka bisa lebih mudah mengutarakan keinginan dan kebutuhan mereka.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Ajak anak untuk berintegrasi dengan masyarakat. Mereka memiliki hak untuk bergaul dan mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya, termasuk secara sosial. Sedulur yang memiliki anak dengan sindrom Down bisa bergabung dengan komunitas orang tua yang mengalami hal serupa untuk berbagi ilmu dan pengalaman.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Edukasi diri sebanyak mungkin tentang sindrom Down, baik dari sesama penyintasnya atau dari ahli.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Konsultasi pada dokter untuk tahu makanan apa yang aman untuk mereka dan suplemen apa yang harus diberikan.\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>10. Mitos tentang sindrom Down yang salah kaprah<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_34111\" aria-describedby=\"caption-attachment-34111\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-34111 size-medium\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/pexels-cliff-booth-4057732-570x468.jpg\" alt=\"Mitos\" width=\"570\" height=\"468\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-34111\" class=\"wp-caption-text\"><a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/photo\/woman-doing-yoga-4057732\/\">pexels<\/a><\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Ada beberapa stigma dan mitos yang melekat pada pengidap sindrom Down. Apa saja? Mari kita dobrak.\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Pengidapnya berusia pendek adalah anggapan yang sering kita dengar. Padahal banyak orang bisa hidup dengan sindrom ini hingga usia lanjut.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Tidak bisa berolahraga dan kesulitan berjalan juga mitos belaka. Bila dilakukan terapi sejak dini, pengidap sindrom tersebut bisa berjalan dengan baik bahkan memiliki kemampuan atletik yang mumpuni.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Individu dengan sindrom Down tidak bisa membaca dan menulis juga salah. Banyak dari mereka yang bersekolah hingga tingkat lanjut.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Wajah pengidap sindrom ini sama. Tentu salah, tetapi mereka memang memiliki ciri khusus yang identik.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Orang dengan sindrom Down cenderung tidak subur. Banyak dari mereka yang berkeluarga dan memiliki keturunan.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Mereka akan bergantung sepenuhnya pada orang lain juga anggapan yang fatal. Banyak dari mereka yang bisa bekerja dan hidup mandiri dengan pelatihan-pelatihan khusus.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Bayi yang lahir dengan sindrom Down diakibatkan oleh perkawinan inses adalah hal yang keliru. Tidak ada penyebab pasti yang menyebabkan kelainan genetik ini.\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>11. Hal yang harus kita lakukan sebagai orang tanpa sindrom Down<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_34129\" aria-describedby=\"caption-attachment-34129\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-34129 size-medium\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/pexels-cliff-booth-4057864-570x427.jpg\" alt=\"Hal yang harus dilakukan\" width=\"570\" height=\"427\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-34129\" class=\"wp-caption-text\">pexels<\/figcaption><\/figure>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Hilangkan stigma dan pemikiran bahwa sindrom Down adalah penyakit yang harus disembuhkan. Ini adalah kondisi klinis bernama sindrom yang akan terus dibawa seumur hidup dan bukan sesuatu yang harus disembunyikan.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Mulai sekarang jangan menjuluki pengidapnya dengan sebutan-sebutan kasar seperti \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">idiot<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d atau \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">retarded<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d. Gunakan istilah yang baik seperti \u201canak atau orang dengan sindrom Down\u201d atau \u201cpengidap sindrom Down\u201d.\u00a0<\/span><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><div class=\"rltdpstsplgn-related-post-block\"><h4 class=\"rltdpstsplgn-related-title\"><\/h4><p>No related posts found...<\/p><\/div><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa hal di atas semoga bisa jadi jendela Sedulur guna mengenal lebih dekat apa itu Down <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">syndrome <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">serta cara menyikapinya.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":16,"featured_media":34087,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[4215,1719],"class_list":["post-34099","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-down-syndrome","tag-kesehatan"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Down Syndrome: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Bukan penyakit yang harus disembuhkan dan dianggap aib, ini fakta menarik dari kondisi klinis down syndrome. Edukasi diri, yuk!\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/down-syndrome\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Down Syndrome: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Bukan penyakit yang harus disembuhkan dan dianggap aib, ini fakta menarik dari kondisi klinis down syndrome. Edukasi diri, yuk!\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/down-syndrome\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Belanja Kebutuhan Pokok\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-02-02T11:00:43+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-02-02T02:07:41+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/19-12.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"682\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"536\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Dwi Ayu Silawati\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Dwi Ayu Silawati\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"10 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/#website\",\"url\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/\",\"name\":\"Belanja Kebutuhan Pokok\",\"description\":\"Belanja Kebutuhan Pokok\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/down-syndrome\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/19-12.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/19-12.jpg\",\"width\":682,\"height\":536,\"caption\":\"down syndrome\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/down-syndrome\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/down-syndrome\/\",\"name\":\"Down Syndrome: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/down-syndrome\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2022-02-02T11:00:43+00:00\",\"dateModified\":\"2022-02-02T02:07:41+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/8756908421f490ff7841da6b00bf4004\"},\"description\":\"Bukan penyakit yang harus disembuhkan dan dianggap aib, ini fakta menarik dari kondisi klinis down syndrome. Edukasi diri, yuk!\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/down-syndrome\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/down-syndrome\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/down-syndrome\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Down Syndrome: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/8756908421f490ff7841da6b00bf4004\",\"name\":\"Dwi Ayu Silawati\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/2ed21fb7d155e7791b86871ea676b2c6?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/2ed21fb7d155e7791b86871ea676b2c6?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Dwi Ayu Silawati\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Down Syndrome: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati","description":"Bukan penyakit yang harus disembuhkan dan dianggap aib, ini fakta menarik dari kondisi klinis down syndrome. Edukasi diri, yuk!","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/down-syndrome\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Down Syndrome: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati","og_description":"Bukan penyakit yang harus disembuhkan dan dianggap aib, ini fakta menarik dari kondisi klinis down syndrome. Edukasi diri, yuk!","og_url":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/down-syndrome\/","og_site_name":"Belanja Kebutuhan Pokok","article_published_time":"2022-02-02T11:00:43+00:00","article_modified_time":"2022-02-02T02:07:41+00:00","og_image":[{"width":682,"height":536,"url":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/19-12.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Dwi Ayu Silawati","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Dwi Ayu Silawati","Est. reading time":"10 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/superapp.id\/blog\/","name":"Belanja Kebutuhan Pokok","description":"Belanja Kebutuhan Pokok","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/superapp.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/down-syndrome\/#primaryimage","url":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/19-12.jpg","contentUrl":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/19-12.jpg","width":682,"height":536,"caption":"down syndrome"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/down-syndrome\/#webpage","url":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/down-syndrome\/","name":"Down Syndrome: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati","isPartOf":{"@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/down-syndrome\/#primaryimage"},"datePublished":"2022-02-02T11:00:43+00:00","dateModified":"2022-02-02T02:07:41+00:00","author":{"@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/8756908421f490ff7841da6b00bf4004"},"description":"Bukan penyakit yang harus disembuhkan dan dianggap aib, ini fakta menarik dari kondisi klinis down syndrome. Edukasi diri, yuk!","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/down-syndrome\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/down-syndrome\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/down-syndrome\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/superapp.id\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Down Syndrome: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/8756908421f490ff7841da6b00bf4004","name":"Dwi Ayu Silawati","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/2ed21fb7d155e7791b86871ea676b2c6?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/2ed21fb7d155e7791b86871ea676b2c6?s=96&d=mm&r=g","caption":"Dwi Ayu Silawati"}}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34099"}],"collection":[{"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=34099"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34099\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":34319,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/34099\/revisions\/34319"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/34087"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=34099"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=34099"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=34099"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}