{"id":31072,"date":"2022-01-14T19:30:30","date_gmt":"2022-01-14T12:30:30","guid":{"rendered":"https:\/\/superapp.id\/blog\/?p=31072"},"modified":"2022-01-14T15:00:41","modified_gmt":"2022-01-14T08:00:41","slug":"vcs-adalah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/vcs-adalah\/","title":{"rendered":"Konsumen Video Chat Sex (VCS) Bisa Dipidana? Cek Di sini!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">VCS adalah singkatan dari<em> video call sex<\/em>, yaitu panggilan video yang berisi muatan seksual. VCS masuk dalam kategori<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> sexting <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang secara umum meliputi kegiatan saling berkirim pesan dengan muatan gambar, suara, kata, atau video yang sugestif atau eksplisit secara seksual.\u00a0\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Apakah kegiatan ini ilegal? Bagaimana pandangan hukumnya di Indonesia dan bisa seseorang terjerat pasal tertentu saat melakukannya? Ulasan lengkapnya ada di bawah, Sedulur.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><b>BACA JUGA: <\/b><\/span><a href=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/sugar-daddy\/\">8 Fakta &amp; Arti Sugar Daddy dan Sugar Baby, yang Sempat Viral<\/a><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>1. VCS dan tren yang berkembang\u00a0<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_31076\" aria-describedby=\"caption-attachment-31076\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-31076 size-medium\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/pexels-cottonbro-3205403-570x468.jpg\" alt=\"vcs\" width=\"570\" height=\"468\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-31076\" class=\"wp-caption-text\"><a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/photo\/turned-on-macbook-3205403\/\">Pexels<\/a><\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, VCS adalah sejenis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">video call <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang isinya eksplisit dan sugestif mengarah pada aktivitas seksual. Hal ini normal dan bisa dianggap bukan masalah bila dilakukan pasangan yang memang telah melakukan konsensus bersama. Nah, dengan definisi legal tersebut munculah tren<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> open <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">VCS. Layanan VCS berbayar seperti ini mirip dengan prostitusi daring yang biasanya dicari pelanggannya dengan kata kunci <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">open booking out <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">atau yang disingkat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">open<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> BO.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Keduanya sama-sama menawarkan jasa layanan seks berbasis promosi media sosial dan pesan singkat. Bedanya, prostitusi daring akan mempertemukan langsung pemilik jasa dengan pengguna. Sementara, VCS hanya berbasis video, gambar, atau percakapan yang dikirim menggunakan aplikasi pesan singkat. Salah satu yang paling populer adalah Whatsapp dan mungkin Telegram. Fakta bahwa kedua pihak tidak memiliki kesempatan untuk bertatap muka langsung dianggap sebagai opsi yang lebih aman. Benarkah?\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>2. Pasal tentang VCS di Indonesia\u00a0<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_31077\" aria-describedby=\"caption-attachment-31077\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-31077 size-medium\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/pexels-edward-jenner-4031710-570x426.jpg\" alt=\"\" width=\"570\" height=\"426\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-31077\" class=\"wp-caption-text\"><a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/photo\/woman-in-a-video-call-with-a-covid-19-patient-4031710\/\">Pexels<\/a><\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Di Indonesia, VCS bisa dikaitkan dengan <\/span><b>UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">. Ini karena ia punya potensi mengandung muatan eksplisit seperti berikut.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Masturbasi\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Ketelanjangan atau menampilkan kesan telanjang<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Alat kelamin\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Kekerasan seksual\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Pornografi anak\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Di samping itu, <\/span><b>UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 Informasi dan Transaksi Elektronik<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> atau yang dikenal luas dengan UU ITE juga bisa menjerat pembuat dan penikmat konten-konten eksplisit tersebut. Pasal yang dimaksud adalah Pasal 45 ayat 1 yang berbunyi sebagai berikut.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSetiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan\/atau mentransmisikan dan\/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan\/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan\/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam penjelasan di dokumen publikasi <\/span><a style=\"color: #000000;\" href=\"https:\/\/web.kominfo.go.id\/sites\/default\/files\/users\/4761\/UU%2019%20Tahun%202016.pdf\"><span style=\"font-weight: 400;\">Kementerian Komunikasi dan Informatika<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, ada beberapa pengertian tentang istilah yang disebutkan, yaitu.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><b>\u201cDistribusi\u201d <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">adalah mengirimkan dan\/atau menyebarkan informasi elektronik dan\/atau dokumen elektronik kepada banyak orang\u00a0 melalui sistem elektronik.<\/span><\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><b>\u201cTransmisi\u201d <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">adalah mengirim informasi dan\/atau dokumen elektronik kepada satu pihak lain lewat sistem elektronik.\u00a0<\/span><\/span><\/li>\n<li><span style=\"color: #000000;\"><b>\u201cMembuat dapat diakses\u201d<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> berarti semua perbuatan lain selain mendistribusikan dan mentransmisikan melalui sistem elektronik yang menyebabkan informasi dan\/atau dokumen elektronik dapat diketahui publik atau pihak lain (di luar pihak yang terlibat).\u00a0<\/span><\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Namun, di sini tidak dijelaskan apa definisi tindakan asusila tersebut. Ini yang kemudian disorot lembaga riset independen Institute for Criminal Justice Reform (ICJR). Disertai dengan kemungkinan revisi agar bisa memfasilitasi bila salah satu pihak yang terlibat dalam pembuatan konten tersebut tidak tahu atau tidak menyetujui tindak distribusi atau penyebarluasan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><b>BACA JUGA: <\/b><\/span><a href=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/uncategorized\/muamalah-adalah\/\">Pengertian &amp; Jenis Muamalah Lengkap dengan Tujuannya<\/a><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>3. VCS yang dianggap legal\u00a0<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_31080\" aria-describedby=\"caption-attachment-31080\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-31080 size-medium\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/pexels-anastasia-shuraeva-4236823-570x468.jpg\" alt=\"vcs\" width=\"570\" height=\"468\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-31080\" class=\"wp-caption-text\"><a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/photo\/woman-in-white-long-sleeve-shirt-holding-an-iphone-4236823\/\">Pexels<\/a><\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Merujuk pada pasal-pasal tersebut, maka ada beberapa kondisi yang membuat VCS legal atau diperbolehkan. VCS baik konten atau aktivitasnya harus memenuhi syarat sebagai berikut agar tidak dipidana.\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Dilakukan dengan persetujuan kedua pihak yang terlibat, melalui proses konsensus dan tidak ada paksaan, ancaman, dan manipulasi di dalamnya.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Kedua pihak sudah cukup usia, bukan anak di bawah umur. Berdasarkan UU Nomor.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia , usia dewasa seseorang di Indonesia adalah 18 tahun sehingga usia di bawahnya dianggap sebagai anak-anak. Namun, dalam urusan pidana dan perdata usia legal seseorang dalam hukum adalah 21 tahun atau sudah menikah seperti yang termaktub dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Digunakan untuk konsumsi pribadi atau tidak disebarluaskan lewat media apapun.\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>4. Jenis VCS yang termasuk melanggar hukum\u00a0<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_31081\" aria-describedby=\"caption-attachment-31081\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-31081 size-medium\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/pexels-polina-zimmerman-4008457-570x426.jpg\" alt=\"\" width=\"570\" height=\"426\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-31081\" class=\"wp-caption-text\"><a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/photo\/man-doing-facetime-4008457\/\">Pexels<\/a><\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Dalam kasus VCS WA yang berbayar pengguna maupun pemilik jasa bisa saja terjerat pasal. Ini karena kata \u201ctransmisi\u201d yang berarti mengirimkan data ke satu pihak. Meski tidak disebarluaskan, kata ini bisa jadi senjata makan tuan untuk penyedia jasa dan pengguna layanan VCS berbayar. Mengingat biasanya akan ada percakapan dua arah yang terjadi sehingga kedua pihak sama-sama melakukan transmisi tersebut. Hal ini menihilkan syarat konsensus yang sebenarnya bisa melegalkan kegiatan ini. Kegiatan ini pun akan makin memberatkan pengguna dan penyedia jasa bila ada bukti transaksi keuangan yang dilakukan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>5. VCS yang berupa konten pornografi anak\u00a0<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_31083\" aria-describedby=\"caption-attachment-31083\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-31083 size-medium\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/pexels-polina-zimmerman-4008459-570x426.jpg\" alt=\"vcs\" width=\"570\" height=\"426\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-31083\" class=\"wp-caption-text\"><a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/photo\/man-lying-down-holding-his-mobile-phone-4008459\/\">Pexels<\/a><\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu terungkap kasus VCS yang berunsur pornografi anak. Modusnya adalah merayu atau menyuap pengguna <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">game online <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang berusia di bawah umur untuk mengirimkan video atau PAP bermuatan seksual. Arti PAP sendiri adalah singkatan dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">post a picture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang berarti korban boleh mengirim konten berupa foto-foto sugestif. Si predator ini mengiming-imingi korbannya sebuah token yang bisa dipakai untuk bermain <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">game.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Mengingat anak-anak memiliki keterbatasan finansial karena masih tergantung pada uang saku orang tua, beberapa pihak pun memanfaatkannya untuk meraup kepuasan pribadi.\u00a0<\/span><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Modus semacam ini sudah sering dilakukan para predator seksual dengan korban anak-anak atau pedofilia di berbagai negara. Biasanya pelaku merupakan orang dewasa laki-laki yang sudah mapan secara finansial dan menyuap korbannya dengan barang-barang yang mereka inginkan. Sebagai gantinya, anak-anak tersebut diminta untuk mengirimkan video dan foto eksplisit atau bahkan melakukan panggilan video langsung dengan pelaku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\"><b>BACA JUGA: <\/b><\/span><a href=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/tips\/pinjaman-online-ilegal\/\">Jangan Tertipu, Ini Ciri Pinjaman Online Ilegal &amp; Cara Lapornya<\/a><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>6. VCS bisa dianggap sebagai <\/b><b><i>sextortion<\/i><\/b><b> bila berunsur paksaan\u00a0<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_31084\" aria-describedby=\"caption-attachment-31084\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-31084 size-medium\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/pexels-rodnae-productions-6003790-570x468.jpg\" alt=\"vcs\" width=\"570\" height=\"468\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-31084\" class=\"wp-caption-text\"><a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/photo\/woman-s-palm-with-written-message-6003790\/\">Pexels<\/a><\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Cara VCS lainnya yang tak kalah ampuh adalah mengancam korban dengan video mereka sendiri. Predator biasanya akan menyimpan atau merekam panggilan video dan konten-konten yang dikirim korban. Tidak hanya dikonsumsi pribadi, mereka bisa saja menjualnya, bahkan menjadikannya alat untuk terus memanipulasi korban. Caranya dengan mengancam akan menyebarluaskan video tersebut ke publik, terutama orang-orang terdekat korban.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jika ini terjadi maka seseorang bisa dijerat dengan pasal . Isinya sebagai berikut. <\/span><b>Pasal 76E Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak<\/b><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Sanksi pidananya adalah penjara penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun, dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah) seperti yang diatur dalam Pasal 82 ayat 1 di UU yang sama.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Namun, belum ada peraturan khusus yang mencantumkan kewajiban negara memberikan pendampingan khusus pada korban. Utamanya anak-anak. Inilah yang berusaha diwujudkan lewat RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang hingga kini masih dibicarakan di DPR.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><span style=\"color: #000000;\"><b>7. Bahaya VCS untuk anak-anak di bawah umur\u00a0<\/b><\/span><\/h2>\n<figure id=\"attachment_31085\" aria-describedby=\"caption-attachment-31085\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-31085 size-medium\" src=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/pexels-mikhail-nilov-7929450-570x457.jpg\" alt=\"\" width=\"570\" height=\"457\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-31085\" class=\"wp-caption-text\"><a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/photo\/a-boy-covering-his-face-with-his-hands-7929450\/\">Pexels<\/a><\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Masalah lain yang mengintai anak-anak adalah kemudahan akses bagi mereka untuk menyewa atau membeli konten VCS lewat berbagai platform. Tarif layanan VCS bisa dibilang cukup murah dan ternyata banyak anak di bawah umur yang memanfaatkannya. Ini tentu berbahaya untuk tumbuh kembang anak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut <\/span><a style=\"color: #000000;\" href=\"https:\/\/www.americanbar.org\/groups\/public_interest\/child_law\/resources\/child_law_practiceonline\/child_law_practice\/vol-33\/may-2014\/how-pornography-harms-children--the-advocate-s-role\/\"><span style=\"font-weight: 400;\">American Bar Association<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">, berikut bahaya pornografi bagi anak-anak antara lain.<\/span><\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Bisa membentuk perilaku menyimpang karena menganggap kekerasan seksual sebagai hal yang normal.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Meningkatkan kecenderungan mereka untuk tidak menghargai perempuan mengingat dalam konten pornografi perempuan selalu dalam posisi direndahkan dan diobjektifikasi.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Tidak mengenal batas dan persetujuan dalam hubungan seksual karena sering melihat konten-konten pornografi yang tidak realistis dan cenderung mengandung unsur paksaan.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Bisa memicu kecanduan pada konten eksplisit. Apalagi VCS di WA sangat mudah diakses dan tarifnya rendah.\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Untuk itu, Sedulur perlu melakukan pencegahan dengan cara-cara berikut.\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Berkomunikasi secara rutin dengan anak, berikan perhatian yang cukup dan tanyakan aktivitas harian mereka. Kebanyakan korban pelecehan seksual anak adalah anak-anak yang kurang perhatian atau memiliki self-esteem rendah, sehingga mereka mudah dimanipulasi dengan pujian dan perhatian yang sebenarnya tidak tulus.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Jadikan rumah tempat yang nyaman agar anak tidak mencari penghiburan atau perhatian lebih dari luar.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Batasi dan awasi penggunaan gawai yang bisa mengakses internet. Cek ponsel pribadi mereka secara rutin.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Berikan edukasi seksual yang tepat dan bekali mereka dengan prinsip yang kuat, termasuk untuk tidak mudah mempercayai orang yang dikenal lewat dunia maya.\u00a0<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400; color: #000000;\">Ajak mereka untuk melakukan kegiatan yang positif seperti kursus keterampilan, olahraga, berwisata ke tempat baru, dan lain sebagainya. Buat mereka sibuk dan produktif dengan cara yang menyenangkan, aman, dan sesuai dengan usia mereka.\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"color: #000000;\"><div class=\"rltdpstsplgn-related-post-block\"><h4 class=\"rltdpstsplgn-related-title\"><\/h4><p>No related posts found...<\/p><\/div><\/span><\/p>\n<p><span style=\"color: #000000;\">Itu dia beberapa hal penting tentang VCS yang wajib Sedulur waspadai. Yuk, lebih bijak menggunakan internet.\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"","protected":false},"author":16,"featured_media":31143,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[3788,3787,3789],"class_list":["post-31072","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lifestyle","tag-pidana","tag-vcs","tag-video"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v19.2 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Konsumen Video Chat Sex (VCS) Bisa Dipidana? Cek Di sini!<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"VCS atau video call sex adalah salah satu fenomena yang terjadi di era digital. Apa maksudnya dan apakah bisa pelakunya dipidana?\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/vcs-adalah\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Konsumen Video Chat Sex (VCS) Bisa Dipidana? Cek Di sini!\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"VCS atau video call sex adalah salah satu fenomena yang terjadi di era digital. Apa maksudnya dan apakah bisa pelakunya dipidana?\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/vcs-adalah\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Belanja Kebutuhan Pokok\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2022-01-14T12:30:30+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-01-14T08:00:41+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/20-5.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"682\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"536\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Dwi Ayu Silawati\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Dwi Ayu Silawati\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/#website\",\"url\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/\",\"name\":\"Belanja Kebutuhan Pokok\",\"description\":\"Belanja Kebutuhan Pokok\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/vcs-adalah\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/20-5.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/20-5.jpg\",\"width\":682,\"height\":536},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/vcs-adalah\/#webpage\",\"url\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/vcs-adalah\/\",\"name\":\"Konsumen Video Chat Sex (VCS) Bisa Dipidana? Cek Di sini!\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/vcs-adalah\/#primaryimage\"},\"datePublished\":\"2022-01-14T12:30:30+00:00\",\"dateModified\":\"2022-01-14T08:00:41+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/8756908421f490ff7841da6b00bf4004\"},\"description\":\"VCS atau video call sex adalah salah satu fenomena yang terjadi di era digital. Apa maksudnya dan apakah bisa pelakunya dipidana?\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/vcs-adalah\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/vcs-adalah\/\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/vcs-adalah\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Konsumen Video Chat Sex (VCS) Bisa Dipidana? Cek Di sini!\"}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/8756908421f490ff7841da6b00bf4004\",\"name\":\"Dwi Ayu Silawati\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/2ed21fb7d155e7791b86871ea676b2c6?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/2ed21fb7d155e7791b86871ea676b2c6?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Dwi Ayu Silawati\"}}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Konsumen Video Chat Sex (VCS) Bisa Dipidana? Cek Di sini!","description":"VCS atau video call sex adalah salah satu fenomena yang terjadi di era digital. Apa maksudnya dan apakah bisa pelakunya dipidana?","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/vcs-adalah\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Konsumen Video Chat Sex (VCS) Bisa Dipidana? Cek Di sini!","og_description":"VCS atau video call sex adalah salah satu fenomena yang terjadi di era digital. Apa maksudnya dan apakah bisa pelakunya dipidana?","og_url":"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/vcs-adalah\/","og_site_name":"Belanja Kebutuhan Pokok","article_published_time":"2022-01-14T12:30:30+00:00","article_modified_time":"2022-01-14T08:00:41+00:00","og_image":[{"width":682,"height":536,"url":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/20-5.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Dwi Ayu Silawati","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Dwi Ayu Silawati","Est. reading time":"8 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/#website","url":"https:\/\/superapp.id\/blog\/","name":"Belanja Kebutuhan Pokok","description":"Belanja Kebutuhan Pokok","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/superapp.id\/blog\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/vcs-adalah\/#primaryimage","url":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/20-5.jpg","contentUrl":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/01\/20-5.jpg","width":682,"height":536},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/vcs-adalah\/#webpage","url":"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/vcs-adalah\/","name":"Konsumen Video Chat Sex (VCS) Bisa Dipidana? Cek Di sini!","isPartOf":{"@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/vcs-adalah\/#primaryimage"},"datePublished":"2022-01-14T12:30:30+00:00","dateModified":"2022-01-14T08:00:41+00:00","author":{"@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/8756908421f490ff7841da6b00bf4004"},"description":"VCS atau video call sex adalah salah satu fenomena yang terjadi di era digital. Apa maksudnya dan apakah bisa pelakunya dipidana?","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/vcs-adalah\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/vcs-adalah\/"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/lifestyle\/vcs-adalah\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/superapp.id\/blog\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Konsumen Video Chat Sex (VCS) Bisa Dipidana? Cek Di sini!"}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/8756908421f490ff7841da6b00bf4004","name":"Dwi Ayu Silawati","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/superapp.id\/blog\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/2ed21fb7d155e7791b86871ea676b2c6?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/2ed21fb7d155e7791b86871ea676b2c6?s=96&d=mm&r=g","caption":"Dwi Ayu Silawati"}}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31072"}],"collection":[{"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/16"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31072"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31072\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":31300,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31072\/revisions\/31300"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/31143"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31072"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31072"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/superapp.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31072"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}